Kamis, 15 Maret 2012

Dibalik sangarnya nama SMA "17"1 part III

Insiden terjadi lagi dalam pelaksanaan eksekusi SMA 17 "1" di Jalan Tentara Pelajar Nomor 24, Kota Yogyakarta, oleh pihak yang mengklaim sebagai pemilik tanah setempat, Senin.

"Kejadian seperti ini sudah terjadi untuk kedua kalinya. Pada 2009 juga pernah terjadi hal serupa," kata Kepala Sekolah SMA 17 "1" Yogyakarta Suyadi.

Ia mengatakan sekitar pukul 07.15 WIB saat ia tiba di sekolah untuk mengawali proses belajar mengajar, pintu gerbang sekolah telah ditutup dengan bambu, dan ada beberapa orang yang menjaganya.

Melihat kondisi tersebut, ia pun berinisiatif untuk mengadukan hal itu ke Kepolisian Sektor Jetis.

Pihak kepolisian dan sekolah kemudian bernegeosiasi dengan kuasa hukum dari pihak yang mengklaim sebagai pemilik tanah setempat.

"Gerbang sekolah pun dibuka. Kami juga menegaskan bahwa sebentar lagi akan dilakukan ujian sekolah, dan ujian nasional, sehingga sekolah tidak boleh dieksekusi begitu saja, karena mereka sudah siap menutup sekolah dengan seng," katanya.

Selama bernegosiasi, salah seorang guru sekolah terpaksa mengajar siswa di trotoar.

Pada 12 Maret 2012 akan dilakukan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) untuk mata pelajaran agama, dan mulai 13 Maret akan dilakukan ujian sekolah.

Ujian Nasional untuk SMA akan dilakukan pada 16-19 April 2012. Selain SMA 17 "1", di komplek tersebut juga terdapat SMP 17 "2" serta kantor yayasan. Di SMA itu terdapat 112 siswa, dan di SMP terdapat 75 siswa.

Suyadi mengatakan tanah di kompleks sekolah dan yayasan tersebut semula adalah milik B Hardjono, yang kemudian menyatakan bahwa tanah itu bukan lagi merupakan aset pribadi, tetapi aset sekolah.

"Tetapi, jika ada ahli waris yang mengklaim pun, kami juga tidak tahu. Namun, pernah ada beberapa orang yang datang untuk menanyakan tanah ini," katanya.

Menurut dia, mereka yang mengkalim bahkan berasal dari luar kota, di antaranya Bantul, Cilacap, dan Kediri. Mereka biasanya telah membayar uang muka pembelian tanah, tanpa terlebih dulu mengecek ke lokasi.

"Kami akan tetap berusaha mempertahankannya, karena tujuannya adalah pendidikan. Selama ini kami juga terus memberikan motivasi ke guru dan siswa untuk bisa tetap melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasa," katanya.

Di sekolah tersebut terdapat delapan guru pegawai negeri sipil (PNS), tiga guru tetap yayasan, dan 17 guru tidak tetap.

Setelah bernegosiasi, eksekusi dengan menutup sekolah batal dilakukan.


http://www.antaranews.com/berita/299875/insiden-terjadi-dalam-eksekusi-sma-17-yogyakarta
Read More..

Dibalik sangarnya nama SMA "17"1 part II

Sejak konflik sengketa lahan di SMA 17 Yogyakarta berlangsung, belasan orang berbadan besar mondar-mandir di kawasan kompleks sekolah. Keberadaan 'preman' ini bergantian selama 24 jam, dan membuat suasana belajar mengajar menjadi tidaknyaman.

"Ini adalah kejadian kedua sejak terjadi 2009 lalu. Secara psikis amat sangat mengganggu, tapi kami berkomitmen proses pendidikan jalan terus. Kita pokoknya mencerdaskan bangsa," tegas Kepala SMA 17, Suyadi.

Ia memperkirakan orang-orang ini adalah suruhan dari orang yang kabarnya sudah membeli tanah sekolah ini. Namun ia tidak tahu persis mengenai masalah ini, karena adalah urusan yayasan.

"Setiap pagi saya juga menyapa mereka. Dan sudah ada komitmen tidak akan melakukan perusakan atau mengganggu masuk ke kawasan kelas," imbuhnya.

Menurutnya kelas 12 tetap giat belajar mengikuti persiapan ujian nasional, termasuk mengikuti les di sore hari, setelah jam pelajaran usai. Harapannya berbagai pihak bersedia memelihara gedung sekolah yang masuk dalam golongan cagar budaya ini agar tetap bisa digunakan untuk belajar.

"Siang ini kabarnya diadakan rapat yayasan, untuk menyelesaikan sertifikat ganda yayasan, yang menjadi sumber masalah. Kami berharap ini bisa diselesaikan, sehingga siswa tetap bisa belajar dengan tenang," imbuhnya.

Sementara Sri Wigati selaku Kepala Humas SMA 17 menambahkan, pihaknya sudah lakukan pendekatan ke siswa agar mereka tetap belajar seperti biasa. Pintu belakang sekolah ditutup, sehingga para preman tidak bisa masuk kelas. "Anak masuk lewat akses pintu utama. Kami sudah lama dan tahu situasi seperti ini, tidak masalah. Lama-lama anak-anak sudah cuek, dengan keberadaan orang asing diluar, tidak masalah," ujarnya.

Agustina Feni, siswi kelas 10 SMA ini mengungkapkan, dirinya kaget ketika Senin lalu sekolah ditutup seng. Ia juga merasa takut akan keberadaan para preman yang masih bersliweran hingga saat ini." Tanggal 16 Maret saya ujian, agak terganggu persiapannya. Karena akhirnya guru sibuk mengurusi masalah ini, dan kurang mengurusi siswa," ujarnya.

Semantara Monica Marlyandini siswi kelas 12 IPS juga mengaku dirinya sempat merasa terganggu. Jam tambahan bagi kelas tiga pun menurutnya tidak dilakukan gara-gara ada kasus ini. "Yang menjengkelkan, sering orang-orang ini mengganggu kami, misalnya bilang 'Mau tak anterin pulang ngga?',atau semacamnya. Ini membuat saya dan siswi lainnnya risih," kesalnya.

Meski terdapat belasan preman, tidak ada satupun dari mereka yang bersedia memberikan keterangan.

http://krjogja.com/read/121139/belajar-mengajar-di-sma-17-ditunggui-preman.kr
Read More..

Dibalik sangarnya nama SMA "17"1 part I


Sekelompok massa menyegel SMA 17 I yang terletak di Jalan Tentara Pelajar no 24, Jetis, Yogyakarta. Massa berasal dari kubu Yayasan Pengembangan Pendidikan 17 yang merasa bahwa pengelola yayasan sekarang tidak sah sehingga tak berhak mengelola kegiatan belajar mengajar.

Kepala SMA 17 I, Suyadi menerangkan, pukul 07.15 WIB sekolah ditutup bambu dan seng serta dijaga banyak orang. Dirinya lalu menghubungi ke Polsek Jetis dan berharap agar sekolah bisa dibuka untuk guru dan siswa.

"Bahkan seorang guru kami Pak Wuryanto mengajar di trotoar. Ini dilakukan untuk persiapan ujian nasional untuk kelas tiga. Tanggal 12 Maret ada ujian agama, tanggal 16 hingga 19 April sudah ujian nasional," ungkapnya.

Massa dapat diusir setelah Komandan Koramil 01 Jetis, Kapten (Inf) Tedjo Suprianto memarahi pengacara kubu Yayasan Pengembangan Pendidikan 17, Fahmi. Akhirnya seng dan bambu yang menutupi sekolah tersebut langsung dibongkar, sehingga proses belajar mengajar bisa terus berjalan.

"Ini sudah kejadian kedua setelah 2009. Kami tidak bisa berbuat banyak selain tetap memberi motivasi bagi 112 siswa SMA dan siswa SMP 17 II," imbuhnya.

Menurutnya pihak pimpinan kedua yayasan akan melakukan negosiasi kembali terkait masalah ini. Suyadi juga minta waktu seminggu berembug bersama guru-guru untuk menentukan sikap ikut yayasan yang mana.

"Kelihatannya ikut yayasan yang lama, karena misinya untuk pendidikan. Kalau yayasan baru bisa saja dikelola untuk kepentingan perorangan. Kami berpesan jangan ada alumni yang melakukan kekerasan fisik terhadap sengketa ini," pungkasnya.

Yayasan Pendidikan 17 didirikan oleh Bonaventura Harjono sejak 1958. Keturunannya, Bedasaktirin Harjanto sejak beberapa tahun lalu mencoba mengambil alih kepemimpinan yayasan dengan mendaftarkan ulang ke Kemenhumkam dengan nama Yayasan Pengembangan Pendidikan 17 atas nama Rin Haryani, isteri Bedasaktirin Harjanto.

Kuasa hukum Yayasan Pengembangan Pendidikan 17,Fahmi menerangkan, pihaknya memang ingin menguasai kawasan sekolah secara fisik. Pasalnya, berdasarkan putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi Yogya, lahan sudah menjadi milik pihaknya.

"Berdasarkan sertifikat kak milik, tanah di tempat ini sudah menjadi klien kami. Bahkan tanah seluas 5.558 meter persegi sekolah ini sudah dijual ke pihak lain, kepada Pak Sugiarto Sugiman," terangnya.

Camat Jetis Sisruwadi menerangkan, pihaknya terus berusaha memfasilitasi kedua pihak, untuk melewati prosedur proses perdata secara benar. Meski demikian, dirinya meminta semua pihak menjaga situasi belajar mengajar di sekolah agar tidak terganggu.

"Lawyer jangan sampai mengganggu kegiatan anak sekolah sampai ujian nasional. Monggo Juni dilanjutkan lagi. Tidak perlu sampai mengerahkan massa, karena rentan timbulkan konflik," tegasnya.


http://krjogja.com/read/120964/sengketa-sma-17-siswa-belajar-di-trotoar.kr
Read More..

Rabu, 14 Maret 2012

Massa Tak Dikenal Tusuk Pemuda di Depan Warung Burjo Kawasan Tegalrejo

Muhammad Nur Huda (17) warga Kuncen, Wirobrajan, Yogyakarta menjadi korban penusukan yang dilakukan segerombolan massa tak dikenal di Jalan HOS Cokroaminoto, Sudagaran, Tegalrejo, Yogyakarta, Senin (12/3) petang. Korban ditikam dengan senjata tajam pada bagian dadanya hingga menembus paru-paru.

Saat kejadian korban bersama beberapa temannya tengah nongkrong di depan sebuah warung bubur kacang ijo (burjo). Tiba-tiba dari arah utara datang puluhan pemuda dengan menggendarai sepeda motor dan menyerang Huda serta teman-temannya.

Huda yang kaget langsung mencoba lari bersama temannya, namun korban berhasil terkejar oleh beberapa pemuda dan menusukkan senjata tajam ke dadanya. Melihat korban terkapar, massa langsung melarikan diri dan merusak sepeda motor yang terparkir di depan warung burjo serta mengambil beberapa helm di atas kendaraan.

Warga di lokasi langsung melarikan Huda ke RS Ludiro Husodo. Namun karena luka yang dialami cukup parah akhirnya korban dipindahkan ke RS dr Sardjito Yogyakarta. Polisi yang datang ke lokasi langsung mengamankan beberapa barang bukti seperti batu yang digunakan untuk menyerang korban serta kendaraan yang dirusak pelaku di lokasi kejadian.

“Kasus ini tengah kami tangani. Beberapa saksi di lokasi kejadian telah kami mintai keterangan untuk pengembangan kasus ini,” tegas Kanit Reskrim Polsekta Tegalrejo, Ipda Mahmudi.



http://krjogja.com/read/121708/massa-tak-dikenal-tusuk-pemuda-di-depan-warung-burjo-kawasan-tegalrejo.kr
Read More..

Selasa, 13 Maret 2012

Warung Burjo diserang Gerombolan Pengendara Motor

Warung burjo di Jalan AM Sangaji Jetis, Minggu (11/3), dini hari, dirusak oleh gerombolan pengendara sepeda motor. Para pelaku merusak kaca estalase, serta memecah spido dan kaca lampu sepeda motor milik Deden Irawan (20).

Saat itu korban sedang bersih-bersih warung burjonya, tiba-tiba datang gerombolan pengendara sepeda motor. Mereka langsung masuk dan melakukan perusakan. Selain itu sepeda motor korban juga menjadi sasaran, spido dan kaca spion nya dirusak. Setelah puas merusak, pelaku pergi membawa 2 helm milik korban. Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Jetis.

Sementara itu, terbukti membawa sangkur, Anggun Medison (21), Senin (12/3), divonis 4 bulan penjara oleh majelis PN Yogya yang diketuai Bahtra Yenny Warsita SH. Terdakawa terbukti melanggar pasal 2 (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951. Sebelumnya, Jaksa Kunto Singgih Pramono SH menuntut terdakwa selama 6 bulan penjara. Aksi terdakwa terjadi 4 Desember 2011 di Jalan Kemetiran Lor Pringgokusuman Gedongtengen. Saat itu terdakwa bersama teman-temannya bertemu dengan gerombolan lain. Kemudian terdakwa mengacungkan sangkurnya ke arah gerombolan yang menghadangnya.  

KR
Read More..

Jumat, 09 Maret 2012

Tekan Kenakalan Pelajar, Ada Dua Polisi di Tiap Sekolah

Kepolisian Resor Kota Yogyakarta siap menempatkan dua personel polisi di tiap sekolah dari jenjang SMP hingga SMA dan sederajat untuk menekan tingkat kenakalan pelajar di wilayah tersebut.

"Rencananya, akan ada dua personel polisi di tiap sekolah. Mereka tidak hanya untuk mengawasi sekolah, tetapi juga menjadi tempat konsultasi dan memberikan pendampingan kepada pelajar," kata Kompol M. Fathurahman Kepala Satuan Bimbingan Masyarakat Kepolisian Resor Kota Yogyakarta di Yogyakarta, Kamis (2/2/2012).

Menurut dia, personel kepolisian tersebut akan berkoordinasi dengan guru Bimbingan Pelajar (BP) di tiap-tiap sekolah dalam menjalankan perannya dalam memberikan pendampingan untuk pelajar di sekolah.

"Nantinya, juga akan dilibatkan personel dari Badan Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas)," ungkapnya seperti dilansir Antara.

Sementara itu, lanjut dia, sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta termasuk yayasan dari sekolah swasta diminta untuk membuat sebuah sekretariat bersama dalam menangani kenakalan pelajar yang terkadang sudah menjurus ke tindak kriminal dan pidana itu.

Sementara itu, Edy Heri Suasana Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mengatakan, kegiatan pembuatan sekretariat bersama tersebut sejalan dengan visi dan misi kepala daerah Kota Yogyakarta tentang pendidikan berkarakter.

"Rencana pembuatan sekretariat bersama ini masih akan ditindaklanjuti dengan perwakilan dari sekolah-sekolah," katanya.

Ia mengatakan, akan ada berbagai kegiatan yang bisa dilakukan untuk menanggulangi semakin berkembangnya kenakalan pelajar di Kota Yogyakarta.

Aktivitas yang akan dilakukan tersebut di antaranya adalah bakti sosial dan juga outbond yang tidak diikuti oleh pelajar yang dikenal sebagai pelajar baik-baik, tetapi justru diikuti pelajar yang kerap terlibat dalam masalah kenakalan.

"Kegiatan itu ditujukan agar pelajar memiliki aktivitas yang terkendali sehingga tidak mengarah ke perkelahian atau kenakalan pelajar lain," katanya.


http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=c4cc423d368c255115d8477815b502022012102766
Read More..

Kamis, 08 Maret 2012

Yogya Kota (Geng) Pelajar

YOGYAKARTA– Identitas Yogyakarta sebagai Kota Pelajar belumlah luntur. Namun maraknya geng pelajar di kota ini membuat citra positif itu perlahan tercoreng. Aksi mereka pun kian meresahkan.

Keberadaan geng-geng ini terselubung. Jumlah geng pelajar ini pun terus bertambah. Dari penelusuran Seputar Indonesia (SINDO), di tingkat SMP dan SMA, setidaknya ada 60 geng yang masih eksis di Yogyakarta dansekitarnya.Kemarin,sejumlah pelajar ditangkap di Minggiran, Mantrijeron karena hendak tawuran dengan siswa sekolah lain.Beruntung aksi mereka tercium dahulu oleh polisi.

Dari beberapa kejadian,keberadaan geng pelajar itu kerap berbuat ulah bahkan mengarah ke tindak kriminalitas.Kelompok pelajar itu biasa terlibat perkelahian, bahkan ada yang sengaja mencari musuh dengan pelajar dari sekolah lain.Kelompok pelajar itu beranggotakan pelajar kelas 1 sampai dengan kelas 3 dan biasa berkumpul secara berkelompok di sekitar kompleks sekolah. Meski keberadaannya terselubung dengan nama kelompok yang biasa di cat tembok-tembok, jika tidak mendapatkan penanganan serius dikhawatirkan keberadaan mereka akan terus membuat keresahan.

Endang, salah seorang pedagang angkringan di Jalan Kapas Yogyakarta,tepatnya sekitar kompleks SMA Muhammadiyah II Yogyakarta mengaku kerap merasa was-was ketika melihat ada pelajar dari sekolah lain melintas dan memainkan gas kendaraan. Sebab, jika itu terjadi pelajar yang berkumpul di warungnya biasanya mengejar dan terlibat perkelahian. “Kalau ada yang lewat dari sekolah lain bleyer (main gas) motor langsung dikejar, kadang juga ribut di sini,” katanya. Para pelajar itu yang sering nongkrong di warungnya kerap juga terlihat datang dengan membawa senjata.

Senjata yang dibawa biasa tidak dibawa masuk sekolah, melainkan disimpan atau dititipkan.”Biasanya ada yang ada juga yang nitip seperti keling,” ungkap dia. Bagas,pelajar dari SMK Nasional, Kalasan, Sleman yang mengaku biasa nongkrong di warung Jalan Kapas mengaku geng pelajar hampir ada di setiap sekolah dan masing-masing memiliki nama khusus. Mereka yang tergabung dalam geng itu ingin menamakan diri mereka sebagai gengster.“Kalau di sekolahku gengnya Rasta (Revolusi Nasional Yogyakarta),” katanya.

Pelajar yang masih duduk di bangku kelas II SMK Nasional Kalasan itu membenarkan jika antarsekolah biasa terlibat perkelahian terutama bagi yang memang sudah memiliki permusuhan. Perkelahian tidak hanya bisa terjadi di lingkungan sekolah atau di dalam kota, perkelahian bisa terjadi di luar kota sekalipun jika memang bertemu. “Kemarin itu ketemu di Jakarta juga bisa tawur,” ulasnya. Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sunyoto Usman berpendapat pelajar masuk dalam kelompok geng dan berkelahi karena mereka meniru orang dewasa atau juga meniru apa yang pernah dilihat di televisi maupun film.

Untuk menangani hal itu tidak bisa mengedepankan dari peran guru di sekolah saja, melainkan memerlukan peran dari semua pihak, termasuk pemerintah, dan keluarga.“ Penanganannya harus komprehensif dan tidak dipertaruhkan pada pihak sekolah saja,”paparnya. Sunyoto berpendapat, Dinas Pendidikan dan juga pihak sekolah dalam hal itu memang harus bertindak memberi sanksi tegas kepada siswa yang memang diketahui masuk dalam kelompok geng.Sebab jika tidak ada sanksi tegas,tidak dipungkiri kasus perkelahian pelajar kapan saja bisa terjadi. “Meski geng itu terbentuk di luar sekolah, sekolah juga tidak bisa lepas tangan,” pungkasnya.

Kasi Kesiswaan Pengembangan Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta Wisnu Sanjaya mengakui adanya geng pelajar di Kota Yogyakarta. Dari catatan yang dimiliki ada puluhan geng pelajar, hanya dimungkinkan sebagian sudah tidak ada atau sudah ganti nama.Sebagai upaya preventif guna mengantisipasi perkelahian pelajar Disdikpora terus melakukan kerjasama dengan kepolisian salah satunya dengan melakukan kegiatan operasi.

“Dari sekolah juga melakukan tindakan tegas terhadap anak yang terkena kasus dengan memberikan sanksi tegas berupa pengeluaran,” paparnya. Muji Barnugroho


http://www.jogjainfo.net/2012/01/yogya-kota-geng-pelajar.html
Read More..

Kamis, 23 Februari 2012

Tanggapan Walikota Terhadap Tawuran

WALIKOTA : PELAJAR KOTA JANGAN “KATROK”

Menyikapi terjadinya kasus tawuran antar pelajar yang terjadi di Kota Yogyakarta akhir-akhir ini, Walikota Yogyakarta H. Herry Zudianto dan Kapoltabes Yogyakarta belum lama ini menggelar dialog dengan para Kepala Sekolah, Pengurus OSIS dan perwakilan siswa SMA/SMK se Kota Yogyakarta bertempat di Ruang Utama Atas Balaikota. Melalui forum ini, Walikota ingin mengetahui persoalan, kegelisahan dan kegerahan apa yang dirasakan para pelajar sehingga memicu aksi tawuran antar pelajar. Hal ini sebagai wujud komitmen keseriusan Walikota terhadap dunia pendidikan di Kota Yogyakarta.
 
“Nasib bangsa Indonesia ditentukan oleh persatuan dari kebhinnekaannya, untuk itu para pelajar diharapkan dapat menyelesaikan perselisihan diantara mereka secara baik sesuai dengan kadar intelektualitas. Janganlah para pelajar menyelesaikan persoalannya dengan “katrok”, terang Walikota ketika mengawali dialognya.

Salah seorang pelajar dari SMA Muhamadiyah 2 Yogyakarta, Said Priambodo mengemukakan bahwa tawuran pelajar yang terjadi di Kota Yogyakarta sudah seperti budaya dimana antara sekolah satu dengan sekolah lain mempunyai sebuah geng. Dan antar geng tersebut mempunyai dendam turun temurun yang sulit untuk dihapuskan. Namun sebenarnya jika mempunyai komitmen yang kuat untuk maju maka hal tersebut dapat dihindari. Said Priambodo berpendapat bahwa perilaku tawuran pelajar terjadi karena pengetahuan pelajar tentang bagaimana membangun kepercayaan diri (building self confident) masih sangat kurang sehingga membuat mereka mudah terpengaruh. Untuk itu, Said mengusulkan agar Pemkot mengadakan kegiatan menggambar mural bersama yang diikuti oleh anggota geng yang ada di sekolah-sekolah sehingga akan memunculkan rasa memiliki diantara mereka untuk memelihara dan menjaga mural tersebut.

Menanggapi hal tersebut Walikota menyatakan siap mengback up setiap kreativitas para pelajar Yogya. Namun sebenarnya berbagai solusi diharapkan berasal dari para pelajar karena sebenarnya mereka yang mengetahui secara pasti segala permasalahan yang dihadapi. Untuk permasalahan yang lebih besar dan menyangkut kebijakan dan fasilitas umum, itu adalah tugas Walikota memenuhinya.
 
Dalam kesempatan yang sama, Kapoltabes Yogyakarta Kompbespol Drs. Agung Budi Maryoto, MSi memberi pengarahan beberapa aspek yang mempengaruhi tindakan dan perilaku generasi muda yang dapat menentukan pembentukan karakter anak. Jika tidak ada arahan dengan baik maka dapat memicu timbulnya perilaku negatif.
 
Lebih lanjut Kapoltebes menegaskan bahwa jajaran Kepolisian dan Walikota sepakat untuk tidak segan-segan melakukan penegakan aturan hukum terkait aksi kenakalan remaja. Diantaranya aksi tawuran pelajar yang berdampak pada keresahan masyarakat khususnya yang berbau kriminalitas.
Walikota menambahkan bahwa saat ini Pemkot sedang menggodok aturan termasuk diantaranya menyangkut pemberian sanksi yang bersifat mendidik dari sekolah. Hal ini sebagai upaya menseriusi gejala tawuran yang mungkin muncul kembali. Pemkot berencana memanggil para orang tua pelajar yang terlibat tawuran, karena yang terjadi jika pihak sekolah memberi sanksi kepada pelajar, malah pihak orang tua datang ke sekolah melakukan protes sembari membawa pengacara. Hal ini adalah tindakan yang tidak mendidik, karena perilaku yang salah tetapi tetap dibela, jelas Walikota.


http://mediainfokota.jogjakota.go.id/detail.php?berita_id=101
Read More..

Minggu, 19 Februari 2012

Yang Bener Yang Mana Sih?

antara ini?
Grixer
atau dengan ini?
Morenza
Read More..

2 SMK di Yogyakarta Tawuran

Lagi-lagi, dunia pendidikan di Yogyakarta tercoreng dengan terulangnya aksi tawuran pelajar. Kali ini, tawuran melibatkan SMK Piri 1 dan SMK Muhammadiyah 3.

Oki Setiawan, 17, pelajar dari SMK Piri 1 menjadi korban amukan pelajar dari SMK Muhammadiyah. Tawuran ini pecah sekitar pukul 11.15 WIB kemarin di Jalan Kenari tepatnya di depan SMK 6 Yogyakarta.Lokasi ini tidak jauh dari SMK Piri 1.Korban yang saat itu tengah berhenti di pinggir jalan didatangi puluhan pelajar SMK Muhammadiyah berkendara motor.

Tanpa alasan yang jelas, korban lantas menjadi bulanbulanan. Akibatnya, korban mengalami luka sobek di bagian kepala belakang. Beruntung, saat kejadian datang petugas Satpol PP dari Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Yogyakarta yang tengah melakukan kegiatan patroli keliling. ”Mengetahui korban dikeroyok banyak orang, kami langsung datang menyelamatkan korban, beberapa anggota lain berhasil mengamankan dua pelajar,” kata Hermawan, salah seorang petugas regu patroli.

Setelah dilakukan pengejaran, petugas kembali berhasil mengamankan dua pelajar lain dari SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Sedang, korban yang mengalami luka dilarikan ke RS Bethesda untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah mendapatkan pengobatan, korban dan juga pelajar lain yang berhasil ditangkap langsung dibawa ke Polsekta Umbulharjo.

Pelajar dari SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta yang diamankan masing-masing DA,17,wargaGabusan, Bantul; GP,16,warga Minggiran,Mantrijeron,Yogyakarta; MA,17,warga Pinging,Jetis, dan M,16,warga Godean. Usai menjalani pemeriksaan, GP mengaku antara sekolahnya dengan SMK Piri 1 sudah lama saling bermusuhan. Dari kabar yang diterima dari teman-teman satu sekolahanya, akan ada aksi serangan dari SMK Piri 1 terhadap sekolahnya.

”Daripada keduluan kita berniat menyerang dulu,” katanya. Oki Setiawan mengaku mengatakan saat kejadian dia sedang menungu pacarnya yang sekolah di SMK 6 Yogyakarta. Secara tiba-tiba, dia dikeroyok hingga akhirnya mendapatkan luka di kepala belakang. ”Pakai besi kelihatannya mas,”katanya. Kapolsek Umbulharjo Kompol Iqbal Yudhi mengatakan, para pelajar yang diamankan akan diberikan pembinaan, dan jika dimungkinkan akan dikenakan sanksi apel.

Pihak sekolah dan orangtua juga akan dilakukan pemanggilan untuk memberikan pembinaan. Kasi Kesiswaan dan Pengembangan Pendidikan Disdikpora Kota Yogyakarta,Wisnu Sanjaya mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan mengenai kasus tawuran pelajar yang terjadi antara pelajar SMA Piri 1 dan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

Direncanakan,Senin (3/10) besok akan melakukan pemanggilan masing-masing kepala sekolah untuk melakukan koordinasi. ”Kita berharap pihak sekolah sudah bisa menyelesaikan agar tidak kembali terulang. Tapi jika tidak dari Dinas nanti tetap akan turun tangan, kita sejauh ini akan terus memantau,” katanya.

(STPR vs MZA)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/432373/
Read More..

Ingin Jemput Pacar, Eh Malah Babak Belur

Sial bener nasib yang dialami Oki Setiawan (16), pelajar kelas II SMK Piri I Yogyakarta , warga Caturtunggal Depok Sleman. Saat nongkrong di depan SMK 6 Yogyakarta untuk menjemput pacarnya, dia tiba-tiba dikeroyok puluhan pelajar dari SMU Muhammadiyah III (Muga) Yogyakarta.

Kepala bagian belakang Oki bocor setelah mendapatkan pukulan menggunakan besi. Beruntung, insiden pengeroyokan itu diketahui oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kota Yogyakarta yang tengah berpatroli dan membersihkan spanduk-spanduk tidak berizin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Meski para pelajar tersebut berhamburan pergi, namun petugas mengamankan empat orang pelajar dari SMU Muga.

“Saya sedang duduk-duduk, kemudian didatangi dan dikeroyok beramai-ramai,” ucap Oki yang kepala bagian belakang mendapatkan balutan perban usai menjalani perawatan medis di RS Bethesda Yogyakarta, Sabtu (1/10/2011).

Sementara itu, Hermawan, anggota Sat Pol PP yang menangkap empat pelajar SMU Muga mengatakan, pelaku pengeroyokan lebih dari 40 orang yang menggunaka sepeda motor. Dari semua pelajar itu, hanya sebagian orang yang berada di depan saja yang terjun langsung ‘mengeksekusi’ korban.

“Ada yang membawa pedang, sebagian besar para pelajar kabur setelah kami datang. Kami menangkap empat orang yang tertinggal saat pengeroyokan itu terjadi sekira pukul 11.00 WIB,” kata Hermawan yang selanjutnya menyerahkan ke-empat pelajar itu ke polisi setempat.

Ke-empat pelajar itu, Muhidin Argianto (16) dan Muh Reza (16) yang duduk di bangku kelas III, Dimas Agung (16) dan Gumilang Prioambodo (16) kelas II. Ke-empat pelajar ini mengaku hanya ikut-ikutan ‘menyerbu’ SMK Piri saat mendapatkan informasi sekolah mereka akan didatangi sekolah tersebut.

“Saya hanya ikut-ikutan, informasinya SMK Piri akan menyerang kami (SMU Muga), makanya tadi setelah pulang sekolah, kami menyerang sana duluan,” jelas Gumilang diamini tiga rekannya.

Meski demikian, mereka mengaku tidak melakukan penganiayaan terhadap korban yang sedang duduk-duduk di atas sepeda motor.

“Saya tidak tahu kalau sudah ada yang tawuran, saya berada di belakang saat keramaian itu terjadi. Saya berusaha membonceng teman saat pak polisi (Sat Pol PP) menangkap saya, tapi saya tertinggal dan teman saya pergi meninggalkan saya,” jelasnya.

Hingga pukul 13.30 WIB, ke-empat pelajar yang tertangkap itu masih menjalani pemeriksaan intensif polisi. Wakapolresta Yogyakarta AKBP Darmanto sempat meninjau langsung di Mapolsekta Umbulharjo Yogyakarta.

Mantan Kapolres Kulonprogo ini mengaku prihatin dengan adanya tawuran pelajar di kota Yogyakarta. “Masih diperiksa Reskrim, saya hanya meninjau saja,” katanya.

(STPR vs GXR)
http://yogyaonline.net/ingin-jemput-pacar-eh-malah-babak-belur.html
Read More..

Sabtu, 18 Februari 2012

Geng pelajar bergerak terselubung

Hingga Selasa (23/8) siang, pihak SMA N 1 Depok belum menerima laporan resmi terkait tawuran pelajar yang terjadi di depan gedung Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul, Minggu (21/8) dini hari lalu.

“Kami baru tahu dari berita di koran. Belum ada polisi maupun pihak orangtua korban yang melapor ke sekolah,” kata salah satu guru SMA N 1 Depok, Jarwo.

Seperti diberitakan sebelumnya, tawuran yang melibatkan lebih dari 50 pelajar itu mengakibatkan tiga korban harus dilarikan ke RS. Dua di antaranya adalah Feri Ardi, siswa SMA N 1 Depok dan Aditya Baskoro, siswa SMA 3 Muhamadiyah Jogja. Tawuran itu bermula saat salah satu pemuda meneriakkan “BBC”.

Jarwo juga baru tahu dari koran kalau salah satu siswanya, Feri Ardi, sempat kritis karena luka bacok di punggung. Pihak sekolah belum menengok korban yang kini masih dirawat di RS Pantirapih, Jogja.

Meski masih dalam penyelidikan kepolisian, satpam SMA N 1 Depok, Suroto menduga penyebab pecahnya tawuran itu karena dendam lama kedua kubu. Pasalnya, selama Ramadan ini SMA N 1 Depok sudah tiga kali diteror aksi pelemparan batu.

“Pelemparan batu itu selalu dilakukan tiap Minggu dini hari,” ungkap Suroto. Pelakunya adalah segerombolan pemuda yang berboncengan motor. Setelah menimpuki gerbang sekolah, gerombolan itu langsung tancap gas.

Berkat tegasnya pihak kepolisian, tawuran pelajar kini jarang berlangsung pada siang hari. Kondisi itu jauh berbeda pada 2006 silam. Waktu itu, SMA N 1 Depok bisa dua hingga tiga kali diserang gerombolan pelajar dari sekolah lain.

“Lima tahun lalu, bentrokan kerap terjadi setiap jam pulang sekolah. Saking kewalahan mengatasi bentrokan, banyak satpam mengundurkan diri meski belum satu tahun bekerja,” kenang Suroto.

Adapun Kuntoro, tokoh masyarakat di wilayah Babarsari, membenarkan jika ada sebagian siswa SMA N 1 Depok tergabung dalam geng BBC. Namun, pihaknya tidak tahu pasti keterlibatan geng itu dalam tawuran di depan JEC.

“Sejak saya masih SMA, sudah ada geng pelajar. Waktu itu saya tergabung dalam geng Qzruh yang sampai hari ini masih eksis,” ujar alumnus SMA N 1 Depok angkatan tahun 1989 itu saat ditemui di rumahnya.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Toro itu, tawuran pelajar kali ini lebih terselubung karena kecanggihan teknologi. Cukup saling ejek lewat sms atau facebook, para pelajar bisa terpancing emosinya. Menghimpun massa sewaktu-waktu juga lebih mudah dengan hape.

Pada 2008 silam, seluruh anggota geng BBC pernah dikumpulkan di Polsek Depok Barat karena kasus pengeroyokan terhadap seorang warga asal luar Jawa hingga kritis. Namun saat diminta membubarkan organisasi BBC, seluruh anggotanya kompak menolak.

“Alasannya, BBC bukanlah geng. Sebab, tidak semua anggotanya terlibat dalam aksi anarkis,” ujar Kasi Humas Polsek Depok Barat Aiptu Afandi. Menurut Afandi, anggota geng BBC bukan hanya sebagian siswa SMA N 1 Depok yang masih aktif. Para alumnus SMA N 1 Depok pun juga masih terlibat dalam geng tersebut.

“Untuk membina mereka juga sulit. Sebab, geng itu tidak memiliki markas atau tongkrongan tetap,” pungkas Affandi.

lanjutan dari link
(BBC)
http://www.solopos.com/2011/harian-jogja/sleman-2/geng-pelajar-bergerak-terselubung-148534
Read More..

Tanggapan dari awam tentang Tawuran Jogja

Hari ini saudara saya sendiri jadi korban pemukulan orang yang nggak dikenal. Lagi-lagi penyebabnya adalah identitas sekolahnya. Ya, memang sih saat itu dia pakai celana olahraga yang ada identitas sekolahnya. Tapi kejadian ini memang diluar dugaan karena dia masih anak angkatan baru, dan saya tahu betul kalau dia tipe yang nggak suka kumpul-kumpul untuk cari onar. Memang nggak parah sih bekas pukulannya, syukurnya tidak separah seperti pengalaman orang lain yang biasa diceritakan teman-teman saya.

Usaha pemerintah Jogja untuk mengurangi tingkat resiko kekerasan pada pelajar SMA, terutama yang laki-laki, karena disebabkan oleh permusuhan siswa antar sekolah memang setidaknya sudah sedikit dilakukan. Badge sekolah yang dulunya menjadi simbol asal sekolah di SMA kota sekarang diubah menjadi “Pelajar Kota Yogyakarta”. Jadi setidaknya orang-orang yang sebenarnya nggak bersalah tetapi sering jadi objek kekerasan, bisa lebih terselamatkan. Tentunya asalkan juga tidak tempel stiker sana sini di badan motor atau helmnya.

Secara pribadi sebenarnya saya setuju-setuju saja akan adanya kelompok-kelompok tertentu ditiap sekolah. Tentunya kelompok-kelompok tersebut terbentuk biasanya oleh kesamaan-kesamaan yang ada. Bisa karena hobinya sama, latar belakang, cara berpikir, cocok-cocokan ngobrol, dan yang paling kuat yang biasanya dibangga-banggakan siswa sekolah adalah sama-sama ingin membela sekolahnya. Tapi yang menjadi permasalahan adalah ketika aktivitas yang dilakukan tidak sejalan dengan aturan atau kebiasaan yang ada di masyarakat.

Masyarakat Jogja terkenal dengan julukan masyarakat Kota Pelajar. Dan sudah menjadi lumrah bila yang diharapkan memang sikap-sikap selayaknya kaum terpelajar, yang terdidik, yang cendikia. Kekerasan dengan dalih membela martabat teman dan sekolah tentu bukan cara yang dilakukan oleh pelajar Jogja. Statistika berbicara, Jogja adalah wilayah dengan tingkat tawuran pelajar yang cukup tinggi. Namun tentunya data tersebut juga dipengaruhi jumlah pelajar di Jogja yang lebih tinggi daripada wilayah lain, sehingga nampak tingkat tawurannya tinggi. tapi ya, memang begitulah faktanya.

Malu? Ya!

Jelas harus malu. Malah malu-maluin kalau sampai tidak merasa malu. Bahkan saking malunya, ketika saya ada kesempatan mengikuti pertukaran pelajar ke salah satu wilayah di Indonesia, banyak wanti-wanti dari dinas dan kakak-kakak angkatan agar ketika kami ditanya oleh orang-orang di wilayah lain tentang tawuran pelajar, kami harus menjawab bahwa ‘kami tidak tahu menahu soal itu’. Sungguh. Dan alasannya adalah karena kami malu dengan kondisi itu.


http://raisatunnisa.wordpress.com/2011/09/17/karena-kami-malu-menjadi-pelajar-jogja/
Read More..

Tanggapan dari Kepolisian tentang Tawuran Pelajar

Sudah untuk kesekian kalinya tawuran antar pelajar SMA terjadi di sekitar Stadion Kridosono terutama terjadi pada jam usai sekolah (antara jam 13.30 s/d 17.00. Dan saya sendiri sudah 6 kali menemui kejadian ini dan berupaya untuk membubarkan mereka dengan cara saya, dan alhamdulillah aksi tawuran bisa saya bubarkan.
Saya menghimbau agar dari pihak Polda qq Polresta Yogyakarta, untuk ikut peduli mengantisipasi aksi tawuran pelajar tsb. Pihak Polda bisa dengan melakukan Patroli disekitar Kridosono dan Kotabaru. Toh pihak Polda juga memiliki team Buser.
Saya pribadi prihatin dengan perilaku pelajar khususnya SMA yang sering tawuran. Bayangkan bila terjadi korban jiwa atau terluka dan itu terjadi pada anggota keluarga kita ? Kita harus mengantisipasi ini agar wilayah Yogya bebas dari tawuran pelajar SMU.
Saya sendiri kadang mempertaruhkan diri dalam melerai mereka, karena resiko saya diserang ada. Itu saya lakukan semata karena saya sangat tidak menyukai adanya tawuran antar pelajar SMA.
Kepada Bapak2 dari pihak Kepolisian, hendaknya mau mendengar hal ini. Amankanlah Yogya dari tawuran pelajar, krn bagaimanapun tawuran juga merupakan kejahatan.
Demikian tulisan saya sampaikan, agar mendapatkan perhatian yang serius demi menjaga generasi penerus tidak terjerumus dalam anarkisme.


http://jogja.polri.go.id/pengaduan/7840.html
Read More..

MAN 2 Yogyakarta 'Say No!' Tawuran Pelajar

Selama ini banyak pandangan negatif yang melekat pada diri pelajar SMA. Mereka sering dianggap nakal, suka tawuran, dan anggapan hal negatif lainnya. Kenyataan itu disadari sepenuhnya oleh MAN 2 Yogyakarta. Sehingga pihak sekolah selalu mengadakan pengawasan terhadap siswa-siswinya.

Setiap hari, sekolah selalu mengadakan pengawasan dari pagi hingga sore hari saat waktu pulang sekolah. Hal itu disampaikan oleh Umi Solikhatun, guru BK MAN 2 Yogyakarta kepada Edupost Selasa (13/9) pagi.

“BK bekerja sama dengan kesiswaan dan guru piket selalu mengawasi siswa tiap hari. Saat jam istirahat kedua, semua harus sholat dzuhur berjamaah. Kami juga memiliki kalender bulanan siswa perempuan, sehingga akan terdeteksi siswi yang berhalangan dan yang tidak berhalangan,“ ungkap Umi.

Selain itu, lanjut Umi, pihaknya juga masih memantau anak didiknya saat pulang sekolah.

Menurut Umi, pihaknya juga sudah mendeteksi adanya geng-geng di kalangan siswanya. Namun, berbagai upaya telah dilakukan untuk menanganinya. Di antaranya adanya penandatanganan pernyataan tidak akan membentuk geng oleh siswa yang disaksikan Kepala Madrasah dan Kapolsek setempat.

(MNF)
http://edupostjogja.com/cmsms/news/270/59/MAN-2-Yogyakarta-Say-No-Tawuran-Pelajar.edu
Read More..

Tawuran Siswa SMP di Yogyakarta Bukan Konflik SARA

Kapolresta Yogyakarta, Kombes Mustaqim membantah tawuran pelajar yang belakangan sering terjadi antar siswa SMP di Kota Yogyakarta berhubungan dengan isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Mustaqim menegaskan, konflik yang melibatkan pelajar dari beberapa sekolah tersebut merupakan kasus kriminal murni secara perorangan.

“Sesuai fakta yang ada, itu kriminal murni. Sifatnya komunitas (genk pelajar), bukan sekolahnya. Sasaran yang dituju kemudian kepada sekolah dan hal itu dudukung kawan-kawannya,” tegas Mustaqim di Yogyakarta, Sabtu (21/1).

Mustaqim juga membantah jika dirinya menetapkan status Siaga Satu bagi Kota Yogyakarta terkait tawuran pelajar SMP tersebut. Ditegaskannya, hingga saat ini situasi Kota Yogyakarta tetap aman dan terkendali.

“Tidak ada status Siaga Satu, hanya kegiatan ditingkatkan saja. Titik-titik sekolah yang ada perkumpulan massa kami pantau. Siswa yang berkumpul usai pulang sekolah segera kami bubarkan dan diperintahkan untuk pulang,” terang Mustaqim.

Hingga saat ini, tegasnya, puluhan pelajar telah berhasil diamankan petugas Polresta Yogyakarta dengan berbagai kasus pelanggaran yang dilakukan. Para pelajar yang ditangkap tetap akan diproses dan diberikan pembinaan.

“Konteksnya saya proses hukum, biar ada efek jeranya. Kami panggil juga orang tua dan pihak sekolah masing-masing. Kami juga mengedepankan proses pembinaan,” tegasnya.

Diberitakan, dalam minggu ini terjadi beberapa kali aksi penyerangan yang dilakukan siswa SMP di wilayah Kota Yogyakarta. Permasalahan ini lalu berkembang di jejaring sosial yang kemudian memicu terjadinya penyerangan. Buntut dari itu, salah satu sekolah di kawasan Umbulharjo jadi sasaran perusakan dan pelemparan siswa.

http://krjogja.com/read/115751/tawuran-siswa-smp-di-yogyakarta-bukan-konflik-sara.kr
Read More..

Eh Ternyata Smuten....





Sambungan dari link
Read More..

Tukang Becak Tewas di Parit Depan SMK Jetis

Seorang tukang becak bernama Prapto Suwito, 63, warga Boyolali, Jawa Tengah ditemukan tewas di parit pojok SMK Jetis, Jogja, Jumat (17/2) pagi.

Jasad korban pertama kali diketahui Dede Sulaiman, 39, pedagang koran asongan Harian Jogja. Dia menjelaskan, sekitar pukul 05.00 WIB dirinya bersiap mengasong koran di sekitar tempat kejadian. Saat dia memarkir sepeda motor dan mulai menjajakan koran kepada pengguna jalan, Dede melihat seorang laki laki dalam posisi tengkurap berada di parit pojok SMK jetis atau tepatnya di belakang pos polisi simpang empat Jl. AM Sangaji Jogja.

Mengetahui kejadian tersebut menurut Dede dirinya meminta pertolongan pada seorang pengndara sepeda motor untuk melaporkan hal tersebut ke Polsekta Jetis. Setelah dilaporkan polisi melakukan olah TKP dan membawa jenazah ke RSUP Sardjito.

Dari kartu identitas yang ditemukan korban diketahui bernama Prapto Suwito. Satu unit becak berwarna cokelat dengan nonor YB 7855KT diamankan di Mapolsekta Jetis. Sampai saat ini polisi masih melakukan penyelidikan penyebab kematian korban.


http://www.starjogja.com/2012/02/tukang-becak-tewas-di-parit-depan-smk-jetis
Read More..

Rabu, 18 Januari 2012

Wow! Genk Manakah Ini?




http://www.kaskus.us/showthread.php?s=83bf558475638f93906362eddcb7544a&t=12410988
Read More..

Jumat, 13 Januari 2012

Disdik Panggil Pihak Sekolah soal Bentrok Pelajar

Berbagai upaya untuk meminimalisir terjadi tawuran antar pelajar di Yogyakarta sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Usai sekolah polisi sudah melakukan patroli sedang Dinas pendidikan memanggil sekolah yang terlibat aksi tawuran.

Hanya saja, aksi tawuran yang terjadi antar siswa sering berada diluar jam sekolah. Beberapa kasus tercatat, aksi dilakukan usai jam belajar selesai atau dilakukan ketika libur sekolah. 

Melalui Wakapolda DIY Kombes Pol Mochamad Jaelani seluruh anggota di bawah Polda DIY memanfaatkan fasilitas yang dimiliki untuk meningkatkan keamanan dengan patroli di lapangan.

Dia meminta agar patroli dilakukan pada jam-jam rawan seperti pulang sekolah dengan menggunakan kendaraan yang sudah dimiliki. Langkah itu dilakukan guna meminimalisir terjadi bentrok.

Sedangkan aksi tawuran yang melibatkan geng, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyatakan segera memanggil kepala sekolah yang terlibat pada aksi tawuran.

Hanya saja, Disdikpora membantah ada geng di sekolah. Jika memang ada, diyakini sebagai aktivitas di luar jam belajar di sekolah. “Kegiatan itu dilakukan di luar jam sekolah tetapi bagaimanapun kami akan panggil kepala sekolahnya,”kata Kasi Kesiswaan Pengembangan Pendidikan Disdikpora Kota Yogyakarta, Wisnu Sanjaya.

Selain itu diketahui, aksi tindak kekerasan yang melibatkan usai remaja pada bulan September tercatat sebanyak 33 kasus penganiayaan, Sajam 2 kasus, pengeroyokan 11 kasus.

Bulan Oktober tercatat 33 kasus penganiayaan, Sajam 2 kasus , Pengeroyokan 11 kasus. Sedangkan pada bulan November tercatat 25 kasus Penganiayaan, Sajam 3 kasus, Pengeroyokan 6 kasus.


http://jogja.tribunnews.com/2012/01/06/disdik-panggil-pihak-sekolah-soal-bentrok-pelajar
Read More..

Kamis, 12 Januari 2012

Ini Data Tawuran di Kota Yogya

Ini beberapa catatan Tribun Jogja tawuran antar pelajar yang terjadi di Kota Yogyakarta,

- Tawuran antara pelajar antara SMU Gama Yogyakarta dengan pelajar dari SMU Bopkri 2 Yogyakarta terjadi sekitar pukul 12.00 WIB tepatnya di belakang Galeria Mall. Seorang ditangkap sebab melakukan penusukan, Jumat (22/4/2011).

- Tawuran antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Piri I versus SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terjadi lagi, Sabtu (01/10/2011), sekitar pukul 11.00 WIB. Akibatnya, seorang siswa SMK Piri mengalami luka sabetan benda keras dibagian kepala hingga sempat dirawat di rumah sakit dan empat siswa diamankan di Mapolsek Umbulharjo.

- SMA 6 Yogyakarta dengan SMA Muhammadiyah 2. Mereka juga membawa senjata tajam untuk melukai pelajar lain hingga seorang pelajar terkena luka tusuk., Sabtu (29/10/2011)

- Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Yogyakarta berhasil menangkap IP (17) alias koplo, pelajar warga Sidoagung, Godean yang tercatat sebagai siswa kelas 1 di satu Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta daerah Wirobrajan, Yogyakarta. Dia terlibat aksi tawuran dengan pelajar lain dari SMK 2 Yogya pada Sabtu, (4/12).

- Dua siswa SMA 11 Yogyakarta diamankan di Mapolsek Tegalrejo Yogyakarta akibat terlibat tawuran di seputaran depan SMA 2 Yogya, Rabu (14/12). Mereka membawa stun gun saat berada dilokasi tawuran.


http://jogja.tribunnews.com/2012/01/06/ini-data-tawuran-di-kota-yogya
Read More..

Kamis, 05 Januari 2012

Anak Pelajar Ngaku Reserse

Lima pelajar SMA swasta di Yogya yang tergabung dalam Genk Respect yakni Gs (19), Ba (16), An (17), Bt (18) dan Iq (17) serta seorang pengangguran Gv (17), Selasa (3/1) ditangkap petugas Polsekta Ngampilan usai menyekap serta menganiaya seorang pelajar SMA negeri di Sleman, Harifz Ts (17). Saat disekap, korban dipukuli, ditelanjangi, disundut rokok dan dipaksa memakan mie instan basi.Aksi penganiayaan itu diduga dilatarbelakangi perang genk sekolah.Para pelaku juga mengaku sebagai anggota reserse saat menculik korban.Menurut keterangan, aksi pengeroyokan terjadi di Jalan Ahmad Dahlan Ngampilan Yogya pada Minggu (1/1) dini hari. Sebelumnya 2 genk sekolah yakni BBC dan Respect sudah saling tantang dan siap untuk tawuran. Mereka bahkan mempersenjatai diri dengan pedang. Genk BBC menunggu di seputaran Balai Kota Yogya, sedangkan Respect menunggu di di Jalan Ahmad Dahlan.Karena tak sabar, anggota Geng Respect ke Balai Kota Yogya. Karena personelnya kalah banyak, mereka memilih kembali ke Jalan Ahmad Dahlan. Tak berselang lama, sekitar 10 anggota BBC yang berboncengan 5 sepeda motor menuju ke Jalan Ahmad Dahlan. Sesampainya di sana, ternyata mereka sudah dikepung anggota Genk Respect.”Anggota genk BBC dilempari batu. Sebagian dapat menyelamatkan diri, namun 2 orang terjatuh dari motor, yakni Surya Aditama (17) dan Harifz Ts (17). Mereka dikroyok,” kata Kapolsekta Ngampilan Yogya Kompol Edi Sugiharto.Pengeroyokan tersebut menyebabkan Surya luka sobek di bagian perut dan mendapat 3 jahitan akibat dibabat pedang. Sedangkan Harifz terkena sabetan pedang tumpul di lengan kanan. Pengeroyokan tersebut memancing perhatian warga dan segera dibubarkan. Genk Respect melarikan diri. Begitu juga dengan korban.Namun, tersangka Gs menghalangi Harifz. Gs mengaku sebagai reserse dan akan melindunginya dari serangan Genk Respect. Oleh Gs, Harifz diajak ke Alun-alun utara dan identitasnya diperiksa. Tanpa sepengetahuan Harifz, Gs menghubungi anggota Respect lainnya dan diminta menunggu di sebuah SMA swasta di Wirobrajan, karena Harifz akan dibawa ke sana. Harifz kemudian diboncengkan motor oleh Gs menuju lokasi itu.”Korban menuruti ajakan Gs, karena mengira Gs adalah polisi. Sesampainya di kompleks SMA itu, korban baru mengetahui jika Gs adalah salah satu anggota Genk Respect,” jelas Kompol Edi.Sekitar pukul 05.00, Harifz dibawa ke sebuah lorong di sekitar sekolah dan diperlakukan tidak manusiawi. Ia ditelanjangi, disundut rokok, dipukul dan dipaksa makan mi instan basi. Bajunya dicoret-coret dengan kata-kata bertuliskan ”Respect”. Pukul 07.00, Harifz dibebaskan.Ia kemudian ke rumah temannya untuk minta pertolongan. Pukul 09.00, Harifz melapor ke Polsekta Ngampilan Yogya.Petugas segera ke asrama dan mengamankan tersangka Gs dan Ba. Sehari kemudian, petugas meringkus Ab, Bt dan Gv. Sedangkan Iq menyerahkan diri pada Selasa (3/1) dini hari. Kini petugas masih memburu anggota Genk Respect lainnya yang diduga kuat terlibat kasus tersebut.

(RSP vs BBC)
222.124.164.131/merapi/?p=1016
Read More..

Senin, 19 Desember 2011

Puluhan pelajar tawuran di depan JEC, 3 masuk RS

Puluhan pemuda pelajar SMA dan SMP di Jogja terlibat tawuran Minggu (21/8) dini hari. Tiga orang korban tepaksa dilarikan ke Rumah Sakit (RS), satu diantaranya sempat kritis karena luka bacokan.

Dari informasi yang dihimpun Harian Jogja, tawuran terjadi Minggu (21/8) sekitar pukul 00.30 WIB di depan gedung Jogja Expo Center (JEC), di daerah Banguntapan, Bantul. Kasetyadi, salah seorang security gedung JEC yang malam itu berada di lokasi kejadian menceritkan, sedikitnya 50 orang lebih pemuda menggunakan sepeda motor saling bentrok. Awalnya satu rombongan mondar mandir di depan JEC menggunakan sepeda motor, lalu berhenti di pinggir jalan.

Tiba-tiba datang rombongan lain yang juga menggunakan sepeda motor dari arah barat. Salah satu orang berteriak menyebut nama ‘BBC’ setelah itu kedua rombongan tersebut langsung saling serang. Ada yang melempar dengan batu, memukul dengan besi dan membawa alat penyetrum ada pula yang menggunakan senjata tajam. “Banyak sekali ada sekitar 50 motor kalau orangnya pasti lebih karena kan ada yang boncengan, ada yang teriak itu BBC, pas teriak itu langsung menyerang, mungkin BBC itu maksudnya geng dari Babarsari,” katanya saat ditemui di rumahnya di wilayah Gedong Kuning.

Tawuran berlangsung selama setengah jam. 15 Menit kemudian barulah petugas kepolisian datang setelah sebelumnya dihubungi salah seorang anggota polisi yang jaga di sekitar JEC. Saat tiba di lokasi, rombongan pemuda tersebut sudah melarikan diri. Namun ada tiga orang korban yang terluka parah dan ditolong oleh warga dan langsung dilarikan ke RS. Selain itu juga tertinggal dua buah sepeda motor yakni Supra X warna hitam merah No. Polisi AB 2445 JA serta Honda Beat warna hitam No. Polisi AB 2970 AF. Lampu kendaraan pecah. Selain itu menurut Kasetyadi, ada dua lelaki lainnya juga mengalami luka lecet. Namun mengaku hanya orang lewat yang terjatuh dari motor karena terkena lemparan batu.

Terpisah, Kepala Polsek Banguntapan Kompol Joko Priyono mengungkapkan, tiga korban yang dilarikan ke RS yakni Feri Ardi pelajar SMA Babarsari, Guntur Nugroho pelajar SMP (tak diketahui nama sekolah) serta Aditya Baskoro pelajar SMA 2 Muhamadiyah Jogja. Informasi tersebut didapat setelah mengecek kartu pelajar korban. Korban Feri Ardi sempat kritis dan tak sadarkan diri saat dibawa ke RS karena mengalami luka bacok dalam di bangian punggung. Adapun Aditya Baskoro luka di bagian jari hampir terputus. Keduanya kini masih dirawat di RS Panti Rapih setelah sebelumnya dibawa ke RS Harjo Lukito. Sedangkan Guntur Nugroho disebutkan sudah pulang dari RS. Ia juga mengami luka bacokan di bagian punggung.

Polisi kata dia juga menemukan tiga dompet dan tiga buah telepon genggam di lokasi kejadian selain dua motor yang tertinggal. Dari telepon genggam tersebut diketahui pesan singkat yang berisi rencana para pelaku bertemu di JEC. Namun tak secara eksplisit disebutkan untuk melakukan tawuran karena bahasanya menggunakan kode-kode tertentu. “Sepertinya mereka sudah janjian, dua rombongan itu ketemu di JEC, dari pesan singkat di HP itu begitu,” ujarnya.

Hingga kini belum diketahu motif para pelajar tersebut melakukan perkelahian. Polisi masih menyelidiki kejadian. Polisi juga enggan mengungkap identitas pemilik telepon genggam dan dompet yang berhasil disita.


(BBC vs RGR)
http://www.jogjalive.com/puluhan-pelajar-tawuran-di-depan-jec-3-masuk-rs/
Read More..

Bawa Sajam Dua Pelajar di Tangkap Buser

Gara-gara membawa senjata tajam (sajam) saat nongkrong di depan SMY Muhammadiyah II Yogyakarta. Tiga pelajar Sekolah Menegah Atas (SMA) di Kota Yogyakarta diamankan anggota Satuan Buru Sergap Polresta Yogyakarta.


Mereka diamankan pada Minggu (11/12) dini hari saat sedang nongkrong bersama kelompoknya. Operasi sajam digelar terkait maraknya aksi tawuran pelajar yang melibatkan geng di sekolah.


Mereka yaitu CP (17) warga Glagahsari, Umbulharjo, BB (16) warga Gamping dan BR (17) warga Kasihan Bantul. Dua dari mereka sedang mengikuti ujian di masing-masing sekolahnya, akibatnya polisi harus mengawal mereka ke sekolah.


“Mereka sempat dikawal hingga sekolahnya karena sedang ujian. Proses pemeriksaan masih akan dilanjutkan,”kata Kanit Buser Polresta Yogyakarta, Aiptu Edy Samosir, Rabu (14/12).


http://jogja.tribunnews.com/2011/12/14/bawa-sajam-dua-pelajar-di-tangkap-buser
Read More..

Pelajar SMA Ditangkap Intel saat Tawuran

Dua siswa SMA 11 Yogyakarta diamankan di Mapolsek Tegalrejo Yogyakarta akibat terlibat tawuran di seputaran depan SMA 2 Yogya, Rabu (14/12).

Mereka adalah BD dan IR, keduanya tercatat pelajar SMA 11 Yogyakarta. Uniknya, keduanya berhasil ditangkap setelah sempat berkelahi dengan anggota intel yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Sambil menunduk di sofa ruang penyidik, mereka mengaku membawa stun gun yang kini disita polisi untuk melindungi diri jika diserang orang lain. Sebab mereka juga diketahui menjadi anggota geng sekolah yang bernama REM.

“Kami minta mereka untuk menandatangi surat pernyataan agar tak mengulangi lagi. Orang tua mereka juga kami panggil agar melakukan pengawasan terhadap anakknya,”kata Kapolsek Tegalrejo, Kompol Irmawansyah.


(REM vs NCZ)
http://jogja.tribunnews.com/2011/12/14/pelajar-sma-ditangkap-intel-saat-tawuran
Read More..