Kamis, 23 Februari 2012

Tanggapan Walikota Terhadap Tawuran

WALIKOTA : PELAJAR KOTA JANGAN “KATROK”

Menyikapi terjadinya kasus tawuran antar pelajar yang terjadi di Kota Yogyakarta akhir-akhir ini, Walikota Yogyakarta H. Herry Zudianto dan Kapoltabes Yogyakarta belum lama ini menggelar dialog dengan para Kepala Sekolah, Pengurus OSIS dan perwakilan siswa SMA/SMK se Kota Yogyakarta bertempat di Ruang Utama Atas Balaikota. Melalui forum ini, Walikota ingin mengetahui persoalan, kegelisahan dan kegerahan apa yang dirasakan para pelajar sehingga memicu aksi tawuran antar pelajar. Hal ini sebagai wujud komitmen keseriusan Walikota terhadap dunia pendidikan di Kota Yogyakarta.
 
“Nasib bangsa Indonesia ditentukan oleh persatuan dari kebhinnekaannya, untuk itu para pelajar diharapkan dapat menyelesaikan perselisihan diantara mereka secara baik sesuai dengan kadar intelektualitas. Janganlah para pelajar menyelesaikan persoalannya dengan “katrok”, terang Walikota ketika mengawali dialognya.

Salah seorang pelajar dari SMA Muhamadiyah 2 Yogyakarta, Said Priambodo mengemukakan bahwa tawuran pelajar yang terjadi di Kota Yogyakarta sudah seperti budaya dimana antara sekolah satu dengan sekolah lain mempunyai sebuah geng. Dan antar geng tersebut mempunyai dendam turun temurun yang sulit untuk dihapuskan. Namun sebenarnya jika mempunyai komitmen yang kuat untuk maju maka hal tersebut dapat dihindari. Said Priambodo berpendapat bahwa perilaku tawuran pelajar terjadi karena pengetahuan pelajar tentang bagaimana membangun kepercayaan diri (building self confident) masih sangat kurang sehingga membuat mereka mudah terpengaruh. Untuk itu, Said mengusulkan agar Pemkot mengadakan kegiatan menggambar mural bersama yang diikuti oleh anggota geng yang ada di sekolah-sekolah sehingga akan memunculkan rasa memiliki diantara mereka untuk memelihara dan menjaga mural tersebut.

Menanggapi hal tersebut Walikota menyatakan siap mengback up setiap kreativitas para pelajar Yogya. Namun sebenarnya berbagai solusi diharapkan berasal dari para pelajar karena sebenarnya mereka yang mengetahui secara pasti segala permasalahan yang dihadapi. Untuk permasalahan yang lebih besar dan menyangkut kebijakan dan fasilitas umum, itu adalah tugas Walikota memenuhinya.
 
Dalam kesempatan yang sama, Kapoltabes Yogyakarta Kompbespol Drs. Agung Budi Maryoto, MSi memberi pengarahan beberapa aspek yang mempengaruhi tindakan dan perilaku generasi muda yang dapat menentukan pembentukan karakter anak. Jika tidak ada arahan dengan baik maka dapat memicu timbulnya perilaku negatif.
 
Lebih lanjut Kapoltebes menegaskan bahwa jajaran Kepolisian dan Walikota sepakat untuk tidak segan-segan melakukan penegakan aturan hukum terkait aksi kenakalan remaja. Diantaranya aksi tawuran pelajar yang berdampak pada keresahan masyarakat khususnya yang berbau kriminalitas.
Walikota menambahkan bahwa saat ini Pemkot sedang menggodok aturan termasuk diantaranya menyangkut pemberian sanksi yang bersifat mendidik dari sekolah. Hal ini sebagai upaya menseriusi gejala tawuran yang mungkin muncul kembali. Pemkot berencana memanggil para orang tua pelajar yang terlibat tawuran, karena yang terjadi jika pihak sekolah memberi sanksi kepada pelajar, malah pihak orang tua datang ke sekolah melakukan protes sembari membawa pengacara. Hal ini adalah tindakan yang tidak mendidik, karena perilaku yang salah tetapi tetap dibela, jelas Walikota.


http://mediainfokota.jogjakota.go.id/detail.php?berita_id=101
Read More..

Minggu, 19 Februari 2012

Yang Bener Yang Mana Sih?

antara ini?
Grixer
atau dengan ini?
Morenza
Read More..

2 SMK di Yogyakarta Tawuran

Lagi-lagi, dunia pendidikan di Yogyakarta tercoreng dengan terulangnya aksi tawuran pelajar. Kali ini, tawuran melibatkan SMK Piri 1 dan SMK Muhammadiyah 3.

Oki Setiawan, 17, pelajar dari SMK Piri 1 menjadi korban amukan pelajar dari SMK Muhammadiyah. Tawuran ini pecah sekitar pukul 11.15 WIB kemarin di Jalan Kenari tepatnya di depan SMK 6 Yogyakarta.Lokasi ini tidak jauh dari SMK Piri 1.Korban yang saat itu tengah berhenti di pinggir jalan didatangi puluhan pelajar SMK Muhammadiyah berkendara motor.

Tanpa alasan yang jelas, korban lantas menjadi bulanbulanan. Akibatnya, korban mengalami luka sobek di bagian kepala belakang. Beruntung, saat kejadian datang petugas Satpol PP dari Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Yogyakarta yang tengah melakukan kegiatan patroli keliling. ”Mengetahui korban dikeroyok banyak orang, kami langsung datang menyelamatkan korban, beberapa anggota lain berhasil mengamankan dua pelajar,” kata Hermawan, salah seorang petugas regu patroli.

Setelah dilakukan pengejaran, petugas kembali berhasil mengamankan dua pelajar lain dari SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Sedang, korban yang mengalami luka dilarikan ke RS Bethesda untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah mendapatkan pengobatan, korban dan juga pelajar lain yang berhasil ditangkap langsung dibawa ke Polsekta Umbulharjo.

Pelajar dari SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta yang diamankan masing-masing DA,17,wargaGabusan, Bantul; GP,16,warga Minggiran,Mantrijeron,Yogyakarta; MA,17,warga Pinging,Jetis, dan M,16,warga Godean. Usai menjalani pemeriksaan, GP mengaku antara sekolahnya dengan SMK Piri 1 sudah lama saling bermusuhan. Dari kabar yang diterima dari teman-teman satu sekolahanya, akan ada aksi serangan dari SMK Piri 1 terhadap sekolahnya.

”Daripada keduluan kita berniat menyerang dulu,” katanya. Oki Setiawan mengaku mengatakan saat kejadian dia sedang menungu pacarnya yang sekolah di SMK 6 Yogyakarta. Secara tiba-tiba, dia dikeroyok hingga akhirnya mendapatkan luka di kepala belakang. ”Pakai besi kelihatannya mas,”katanya. Kapolsek Umbulharjo Kompol Iqbal Yudhi mengatakan, para pelajar yang diamankan akan diberikan pembinaan, dan jika dimungkinkan akan dikenakan sanksi apel.

Pihak sekolah dan orangtua juga akan dilakukan pemanggilan untuk memberikan pembinaan. Kasi Kesiswaan dan Pengembangan Pendidikan Disdikpora Kota Yogyakarta,Wisnu Sanjaya mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan mengenai kasus tawuran pelajar yang terjadi antara pelajar SMA Piri 1 dan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

Direncanakan,Senin (3/10) besok akan melakukan pemanggilan masing-masing kepala sekolah untuk melakukan koordinasi. ”Kita berharap pihak sekolah sudah bisa menyelesaikan agar tidak kembali terulang. Tapi jika tidak dari Dinas nanti tetap akan turun tangan, kita sejauh ini akan terus memantau,” katanya.

(STPR vs MZA)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/432373/
Read More..

Ingin Jemput Pacar, Eh Malah Babak Belur

Sial bener nasib yang dialami Oki Setiawan (16), pelajar kelas II SMK Piri I Yogyakarta , warga Caturtunggal Depok Sleman. Saat nongkrong di depan SMK 6 Yogyakarta untuk menjemput pacarnya, dia tiba-tiba dikeroyok puluhan pelajar dari SMU Muhammadiyah III (Muga) Yogyakarta.

Kepala bagian belakang Oki bocor setelah mendapatkan pukulan menggunakan besi. Beruntung, insiden pengeroyokan itu diketahui oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kota Yogyakarta yang tengah berpatroli dan membersihkan spanduk-spanduk tidak berizin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Meski para pelajar tersebut berhamburan pergi, namun petugas mengamankan empat orang pelajar dari SMU Muga.

“Saya sedang duduk-duduk, kemudian didatangi dan dikeroyok beramai-ramai,” ucap Oki yang kepala bagian belakang mendapatkan balutan perban usai menjalani perawatan medis di RS Bethesda Yogyakarta, Sabtu (1/10/2011).

Sementara itu, Hermawan, anggota Sat Pol PP yang menangkap empat pelajar SMU Muga mengatakan, pelaku pengeroyokan lebih dari 40 orang yang menggunaka sepeda motor. Dari semua pelajar itu, hanya sebagian orang yang berada di depan saja yang terjun langsung ‘mengeksekusi’ korban.

“Ada yang membawa pedang, sebagian besar para pelajar kabur setelah kami datang. Kami menangkap empat orang yang tertinggal saat pengeroyokan itu terjadi sekira pukul 11.00 WIB,” kata Hermawan yang selanjutnya menyerahkan ke-empat pelajar itu ke polisi setempat.

Ke-empat pelajar itu, Muhidin Argianto (16) dan Muh Reza (16) yang duduk di bangku kelas III, Dimas Agung (16) dan Gumilang Prioambodo (16) kelas II. Ke-empat pelajar ini mengaku hanya ikut-ikutan ‘menyerbu’ SMK Piri saat mendapatkan informasi sekolah mereka akan didatangi sekolah tersebut.

“Saya hanya ikut-ikutan, informasinya SMK Piri akan menyerang kami (SMU Muga), makanya tadi setelah pulang sekolah, kami menyerang sana duluan,” jelas Gumilang diamini tiga rekannya.

Meski demikian, mereka mengaku tidak melakukan penganiayaan terhadap korban yang sedang duduk-duduk di atas sepeda motor.

“Saya tidak tahu kalau sudah ada yang tawuran, saya berada di belakang saat keramaian itu terjadi. Saya berusaha membonceng teman saat pak polisi (Sat Pol PP) menangkap saya, tapi saya tertinggal dan teman saya pergi meninggalkan saya,” jelasnya.

Hingga pukul 13.30 WIB, ke-empat pelajar yang tertangkap itu masih menjalani pemeriksaan intensif polisi. Wakapolresta Yogyakarta AKBP Darmanto sempat meninjau langsung di Mapolsekta Umbulharjo Yogyakarta.

Mantan Kapolres Kulonprogo ini mengaku prihatin dengan adanya tawuran pelajar di kota Yogyakarta. “Masih diperiksa Reskrim, saya hanya meninjau saja,” katanya.

(STPR vs GXR)
http://yogyaonline.net/ingin-jemput-pacar-eh-malah-babak-belur.html
Read More..

Sabtu, 18 Februari 2012

Geng pelajar bergerak terselubung

Hingga Selasa (23/8) siang, pihak SMA N 1 Depok belum menerima laporan resmi terkait tawuran pelajar yang terjadi di depan gedung Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul, Minggu (21/8) dini hari lalu.

“Kami baru tahu dari berita di koran. Belum ada polisi maupun pihak orangtua korban yang melapor ke sekolah,” kata salah satu guru SMA N 1 Depok, Jarwo.

Seperti diberitakan sebelumnya, tawuran yang melibatkan lebih dari 50 pelajar itu mengakibatkan tiga korban harus dilarikan ke RS. Dua di antaranya adalah Feri Ardi, siswa SMA N 1 Depok dan Aditya Baskoro, siswa SMA 3 Muhamadiyah Jogja. Tawuran itu bermula saat salah satu pemuda meneriakkan “BBC”.

Jarwo juga baru tahu dari koran kalau salah satu siswanya, Feri Ardi, sempat kritis karena luka bacok di punggung. Pihak sekolah belum menengok korban yang kini masih dirawat di RS Pantirapih, Jogja.

Meski masih dalam penyelidikan kepolisian, satpam SMA N 1 Depok, Suroto menduga penyebab pecahnya tawuran itu karena dendam lama kedua kubu. Pasalnya, selama Ramadan ini SMA N 1 Depok sudah tiga kali diteror aksi pelemparan batu.

“Pelemparan batu itu selalu dilakukan tiap Minggu dini hari,” ungkap Suroto. Pelakunya adalah segerombolan pemuda yang berboncengan motor. Setelah menimpuki gerbang sekolah, gerombolan itu langsung tancap gas.

Berkat tegasnya pihak kepolisian, tawuran pelajar kini jarang berlangsung pada siang hari. Kondisi itu jauh berbeda pada 2006 silam. Waktu itu, SMA N 1 Depok bisa dua hingga tiga kali diserang gerombolan pelajar dari sekolah lain.

“Lima tahun lalu, bentrokan kerap terjadi setiap jam pulang sekolah. Saking kewalahan mengatasi bentrokan, banyak satpam mengundurkan diri meski belum satu tahun bekerja,” kenang Suroto.

Adapun Kuntoro, tokoh masyarakat di wilayah Babarsari, membenarkan jika ada sebagian siswa SMA N 1 Depok tergabung dalam geng BBC. Namun, pihaknya tidak tahu pasti keterlibatan geng itu dalam tawuran di depan JEC.

“Sejak saya masih SMA, sudah ada geng pelajar. Waktu itu saya tergabung dalam geng Qzruh yang sampai hari ini masih eksis,” ujar alumnus SMA N 1 Depok angkatan tahun 1989 itu saat ditemui di rumahnya.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Toro itu, tawuran pelajar kali ini lebih terselubung karena kecanggihan teknologi. Cukup saling ejek lewat sms atau facebook, para pelajar bisa terpancing emosinya. Menghimpun massa sewaktu-waktu juga lebih mudah dengan hape.

Pada 2008 silam, seluruh anggota geng BBC pernah dikumpulkan di Polsek Depok Barat karena kasus pengeroyokan terhadap seorang warga asal luar Jawa hingga kritis. Namun saat diminta membubarkan organisasi BBC, seluruh anggotanya kompak menolak.

“Alasannya, BBC bukanlah geng. Sebab, tidak semua anggotanya terlibat dalam aksi anarkis,” ujar Kasi Humas Polsek Depok Barat Aiptu Afandi. Menurut Afandi, anggota geng BBC bukan hanya sebagian siswa SMA N 1 Depok yang masih aktif. Para alumnus SMA N 1 Depok pun juga masih terlibat dalam geng tersebut.

“Untuk membina mereka juga sulit. Sebab, geng itu tidak memiliki markas atau tongkrongan tetap,” pungkas Affandi.

lanjutan dari link
(BBC)
http://www.solopos.com/2011/harian-jogja/sleman-2/geng-pelajar-bergerak-terselubung-148534
Read More..

Tanggapan dari awam tentang Tawuran Jogja

Hari ini saudara saya sendiri jadi korban pemukulan orang yang nggak dikenal. Lagi-lagi penyebabnya adalah identitas sekolahnya. Ya, memang sih saat itu dia pakai celana olahraga yang ada identitas sekolahnya. Tapi kejadian ini memang diluar dugaan karena dia masih anak angkatan baru, dan saya tahu betul kalau dia tipe yang nggak suka kumpul-kumpul untuk cari onar. Memang nggak parah sih bekas pukulannya, syukurnya tidak separah seperti pengalaman orang lain yang biasa diceritakan teman-teman saya.

Usaha pemerintah Jogja untuk mengurangi tingkat resiko kekerasan pada pelajar SMA, terutama yang laki-laki, karena disebabkan oleh permusuhan siswa antar sekolah memang setidaknya sudah sedikit dilakukan. Badge sekolah yang dulunya menjadi simbol asal sekolah di SMA kota sekarang diubah menjadi “Pelajar Kota Yogyakarta”. Jadi setidaknya orang-orang yang sebenarnya nggak bersalah tetapi sering jadi objek kekerasan, bisa lebih terselamatkan. Tentunya asalkan juga tidak tempel stiker sana sini di badan motor atau helmnya.

Secara pribadi sebenarnya saya setuju-setuju saja akan adanya kelompok-kelompok tertentu ditiap sekolah. Tentunya kelompok-kelompok tersebut terbentuk biasanya oleh kesamaan-kesamaan yang ada. Bisa karena hobinya sama, latar belakang, cara berpikir, cocok-cocokan ngobrol, dan yang paling kuat yang biasanya dibangga-banggakan siswa sekolah adalah sama-sama ingin membela sekolahnya. Tapi yang menjadi permasalahan adalah ketika aktivitas yang dilakukan tidak sejalan dengan aturan atau kebiasaan yang ada di masyarakat.

Masyarakat Jogja terkenal dengan julukan masyarakat Kota Pelajar. Dan sudah menjadi lumrah bila yang diharapkan memang sikap-sikap selayaknya kaum terpelajar, yang terdidik, yang cendikia. Kekerasan dengan dalih membela martabat teman dan sekolah tentu bukan cara yang dilakukan oleh pelajar Jogja. Statistika berbicara, Jogja adalah wilayah dengan tingkat tawuran pelajar yang cukup tinggi. Namun tentunya data tersebut juga dipengaruhi jumlah pelajar di Jogja yang lebih tinggi daripada wilayah lain, sehingga nampak tingkat tawurannya tinggi. tapi ya, memang begitulah faktanya.

Malu? Ya!

Jelas harus malu. Malah malu-maluin kalau sampai tidak merasa malu. Bahkan saking malunya, ketika saya ada kesempatan mengikuti pertukaran pelajar ke salah satu wilayah di Indonesia, banyak wanti-wanti dari dinas dan kakak-kakak angkatan agar ketika kami ditanya oleh orang-orang di wilayah lain tentang tawuran pelajar, kami harus menjawab bahwa ‘kami tidak tahu menahu soal itu’. Sungguh. Dan alasannya adalah karena kami malu dengan kondisi itu.


http://raisatunnisa.wordpress.com/2011/09/17/karena-kami-malu-menjadi-pelajar-jogja/
Read More..

Tanggapan dari Kepolisian tentang Tawuran Pelajar

Sudah untuk kesekian kalinya tawuran antar pelajar SMA terjadi di sekitar Stadion Kridosono terutama terjadi pada jam usai sekolah (antara jam 13.30 s/d 17.00. Dan saya sendiri sudah 6 kali menemui kejadian ini dan berupaya untuk membubarkan mereka dengan cara saya, dan alhamdulillah aksi tawuran bisa saya bubarkan.
Saya menghimbau agar dari pihak Polda qq Polresta Yogyakarta, untuk ikut peduli mengantisipasi aksi tawuran pelajar tsb. Pihak Polda bisa dengan melakukan Patroli disekitar Kridosono dan Kotabaru. Toh pihak Polda juga memiliki team Buser.
Saya pribadi prihatin dengan perilaku pelajar khususnya SMA yang sering tawuran. Bayangkan bila terjadi korban jiwa atau terluka dan itu terjadi pada anggota keluarga kita ? Kita harus mengantisipasi ini agar wilayah Yogya bebas dari tawuran pelajar SMU.
Saya sendiri kadang mempertaruhkan diri dalam melerai mereka, karena resiko saya diserang ada. Itu saya lakukan semata karena saya sangat tidak menyukai adanya tawuran antar pelajar SMA.
Kepada Bapak2 dari pihak Kepolisian, hendaknya mau mendengar hal ini. Amankanlah Yogya dari tawuran pelajar, krn bagaimanapun tawuran juga merupakan kejahatan.
Demikian tulisan saya sampaikan, agar mendapatkan perhatian yang serius demi menjaga generasi penerus tidak terjerumus dalam anarkisme.


http://jogja.polri.go.id/pengaduan/7840.html
Read More..

MAN 2 Yogyakarta 'Say No!' Tawuran Pelajar

Selama ini banyak pandangan negatif yang melekat pada diri pelajar SMA. Mereka sering dianggap nakal, suka tawuran, dan anggapan hal negatif lainnya. Kenyataan itu disadari sepenuhnya oleh MAN 2 Yogyakarta. Sehingga pihak sekolah selalu mengadakan pengawasan terhadap siswa-siswinya.

Setiap hari, sekolah selalu mengadakan pengawasan dari pagi hingga sore hari saat waktu pulang sekolah. Hal itu disampaikan oleh Umi Solikhatun, guru BK MAN 2 Yogyakarta kepada Edupost Selasa (13/9) pagi.

“BK bekerja sama dengan kesiswaan dan guru piket selalu mengawasi siswa tiap hari. Saat jam istirahat kedua, semua harus sholat dzuhur berjamaah. Kami juga memiliki kalender bulanan siswa perempuan, sehingga akan terdeteksi siswi yang berhalangan dan yang tidak berhalangan,“ ungkap Umi.

Selain itu, lanjut Umi, pihaknya juga masih memantau anak didiknya saat pulang sekolah.

Menurut Umi, pihaknya juga sudah mendeteksi adanya geng-geng di kalangan siswanya. Namun, berbagai upaya telah dilakukan untuk menanganinya. Di antaranya adanya penandatanganan pernyataan tidak akan membentuk geng oleh siswa yang disaksikan Kepala Madrasah dan Kapolsek setempat.

(MNF)
http://edupostjogja.com/cmsms/news/270/59/MAN-2-Yogyakarta-Say-No-Tawuran-Pelajar.edu
Read More..

Tawuran Siswa SMP di Yogyakarta Bukan Konflik SARA

Kapolresta Yogyakarta, Kombes Mustaqim membantah tawuran pelajar yang belakangan sering terjadi antar siswa SMP di Kota Yogyakarta berhubungan dengan isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Mustaqim menegaskan, konflik yang melibatkan pelajar dari beberapa sekolah tersebut merupakan kasus kriminal murni secara perorangan.

“Sesuai fakta yang ada, itu kriminal murni. Sifatnya komunitas (genk pelajar), bukan sekolahnya. Sasaran yang dituju kemudian kepada sekolah dan hal itu dudukung kawan-kawannya,” tegas Mustaqim di Yogyakarta, Sabtu (21/1).

Mustaqim juga membantah jika dirinya menetapkan status Siaga Satu bagi Kota Yogyakarta terkait tawuran pelajar SMP tersebut. Ditegaskannya, hingga saat ini situasi Kota Yogyakarta tetap aman dan terkendali.

“Tidak ada status Siaga Satu, hanya kegiatan ditingkatkan saja. Titik-titik sekolah yang ada perkumpulan massa kami pantau. Siswa yang berkumpul usai pulang sekolah segera kami bubarkan dan diperintahkan untuk pulang,” terang Mustaqim.

Hingga saat ini, tegasnya, puluhan pelajar telah berhasil diamankan petugas Polresta Yogyakarta dengan berbagai kasus pelanggaran yang dilakukan. Para pelajar yang ditangkap tetap akan diproses dan diberikan pembinaan.

“Konteksnya saya proses hukum, biar ada efek jeranya. Kami panggil juga orang tua dan pihak sekolah masing-masing. Kami juga mengedepankan proses pembinaan,” tegasnya.

Diberitakan, dalam minggu ini terjadi beberapa kali aksi penyerangan yang dilakukan siswa SMP di wilayah Kota Yogyakarta. Permasalahan ini lalu berkembang di jejaring sosial yang kemudian memicu terjadinya penyerangan. Buntut dari itu, salah satu sekolah di kawasan Umbulharjo jadi sasaran perusakan dan pelemparan siswa.

http://krjogja.com/read/115751/tawuran-siswa-smp-di-yogyakarta-bukan-konflik-sara.kr
Read More..

Eh Ternyata Smuten....





Sambungan dari link
Read More..

Tukang Becak Tewas di Parit Depan SMK Jetis

Seorang tukang becak bernama Prapto Suwito, 63, warga Boyolali, Jawa Tengah ditemukan tewas di parit pojok SMK Jetis, Jogja, Jumat (17/2) pagi.

Jasad korban pertama kali diketahui Dede Sulaiman, 39, pedagang koran asongan Harian Jogja. Dia menjelaskan, sekitar pukul 05.00 WIB dirinya bersiap mengasong koran di sekitar tempat kejadian. Saat dia memarkir sepeda motor dan mulai menjajakan koran kepada pengguna jalan, Dede melihat seorang laki laki dalam posisi tengkurap berada di parit pojok SMK jetis atau tepatnya di belakang pos polisi simpang empat Jl. AM Sangaji Jogja.

Mengetahui kejadian tersebut menurut Dede dirinya meminta pertolongan pada seorang pengndara sepeda motor untuk melaporkan hal tersebut ke Polsekta Jetis. Setelah dilaporkan polisi melakukan olah TKP dan membawa jenazah ke RSUP Sardjito.

Dari kartu identitas yang ditemukan korban diketahui bernama Prapto Suwito. Satu unit becak berwarna cokelat dengan nonor YB 7855KT diamankan di Mapolsekta Jetis. Sampai saat ini polisi masih melakukan penyelidikan penyebab kematian korban.


http://www.starjogja.com/2012/02/tukang-becak-tewas-di-parit-depan-smk-jetis
Read More..

Rabu, 18 Januari 2012

Wow! Genk Manakah Ini?




http://www.kaskus.us/showthread.php?s=83bf558475638f93906362eddcb7544a&t=12410988
Read More..

Jumat, 13 Januari 2012

Disdik Panggil Pihak Sekolah soal Bentrok Pelajar

Berbagai upaya untuk meminimalisir terjadi tawuran antar pelajar di Yogyakarta sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Usai sekolah polisi sudah melakukan patroli sedang Dinas pendidikan memanggil sekolah yang terlibat aksi tawuran.

Hanya saja, aksi tawuran yang terjadi antar siswa sering berada diluar jam sekolah. Beberapa kasus tercatat, aksi dilakukan usai jam belajar selesai atau dilakukan ketika libur sekolah. 

Melalui Wakapolda DIY Kombes Pol Mochamad Jaelani seluruh anggota di bawah Polda DIY memanfaatkan fasilitas yang dimiliki untuk meningkatkan keamanan dengan patroli di lapangan.

Dia meminta agar patroli dilakukan pada jam-jam rawan seperti pulang sekolah dengan menggunakan kendaraan yang sudah dimiliki. Langkah itu dilakukan guna meminimalisir terjadi bentrok.

Sedangkan aksi tawuran yang melibatkan geng, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyatakan segera memanggil kepala sekolah yang terlibat pada aksi tawuran.

Hanya saja, Disdikpora membantah ada geng di sekolah. Jika memang ada, diyakini sebagai aktivitas di luar jam belajar di sekolah. “Kegiatan itu dilakukan di luar jam sekolah tetapi bagaimanapun kami akan panggil kepala sekolahnya,”kata Kasi Kesiswaan Pengembangan Pendidikan Disdikpora Kota Yogyakarta, Wisnu Sanjaya.

Selain itu diketahui, aksi tindak kekerasan yang melibatkan usai remaja pada bulan September tercatat sebanyak 33 kasus penganiayaan, Sajam 2 kasus, pengeroyokan 11 kasus.

Bulan Oktober tercatat 33 kasus penganiayaan, Sajam 2 kasus , Pengeroyokan 11 kasus. Sedangkan pada bulan November tercatat 25 kasus Penganiayaan, Sajam 3 kasus, Pengeroyokan 6 kasus.


http://jogja.tribunnews.com/2012/01/06/disdik-panggil-pihak-sekolah-soal-bentrok-pelajar
Read More..

Kamis, 12 Januari 2012

Ini Data Tawuran di Kota Yogya

Ini beberapa catatan Tribun Jogja tawuran antar pelajar yang terjadi di Kota Yogyakarta,

- Tawuran antara pelajar antara SMU Gama Yogyakarta dengan pelajar dari SMU Bopkri 2 Yogyakarta terjadi sekitar pukul 12.00 WIB tepatnya di belakang Galeria Mall. Seorang ditangkap sebab melakukan penusukan, Jumat (22/4/2011).

- Tawuran antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Piri I versus SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terjadi lagi, Sabtu (01/10/2011), sekitar pukul 11.00 WIB. Akibatnya, seorang siswa SMK Piri mengalami luka sabetan benda keras dibagian kepala hingga sempat dirawat di rumah sakit dan empat siswa diamankan di Mapolsek Umbulharjo.

- SMA 6 Yogyakarta dengan SMA Muhammadiyah 2. Mereka juga membawa senjata tajam untuk melukai pelajar lain hingga seorang pelajar terkena luka tusuk., Sabtu (29/10/2011)

- Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Yogyakarta berhasil menangkap IP (17) alias koplo, pelajar warga Sidoagung, Godean yang tercatat sebagai siswa kelas 1 di satu Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta daerah Wirobrajan, Yogyakarta. Dia terlibat aksi tawuran dengan pelajar lain dari SMK 2 Yogya pada Sabtu, (4/12).

- Dua siswa SMA 11 Yogyakarta diamankan di Mapolsek Tegalrejo Yogyakarta akibat terlibat tawuran di seputaran depan SMA 2 Yogya, Rabu (14/12). Mereka membawa stun gun saat berada dilokasi tawuran.


http://jogja.tribunnews.com/2012/01/06/ini-data-tawuran-di-kota-yogya
Read More..

Kamis, 05 Januari 2012

Anak Pelajar Ngaku Reserse

Lima pelajar SMA swasta di Yogya yang tergabung dalam Genk Respect yakni Gs (19), Ba (16), An (17), Bt (18) dan Iq (17) serta seorang pengangguran Gv (17), Selasa (3/1) ditangkap petugas Polsekta Ngampilan usai menyekap serta menganiaya seorang pelajar SMA negeri di Sleman, Harifz Ts (17). Saat disekap, korban dipukuli, ditelanjangi, disundut rokok dan dipaksa memakan mie instan basi.Aksi penganiayaan itu diduga dilatarbelakangi perang genk sekolah.Para pelaku juga mengaku sebagai anggota reserse saat menculik korban.Menurut keterangan, aksi pengeroyokan terjadi di Jalan Ahmad Dahlan Ngampilan Yogya pada Minggu (1/1) dini hari. Sebelumnya 2 genk sekolah yakni BBC dan Respect sudah saling tantang dan siap untuk tawuran. Mereka bahkan mempersenjatai diri dengan pedang. Genk BBC menunggu di seputaran Balai Kota Yogya, sedangkan Respect menunggu di di Jalan Ahmad Dahlan.Karena tak sabar, anggota Geng Respect ke Balai Kota Yogya. Karena personelnya kalah banyak, mereka memilih kembali ke Jalan Ahmad Dahlan. Tak berselang lama, sekitar 10 anggota BBC yang berboncengan 5 sepeda motor menuju ke Jalan Ahmad Dahlan. Sesampainya di sana, ternyata mereka sudah dikepung anggota Genk Respect.”Anggota genk BBC dilempari batu. Sebagian dapat menyelamatkan diri, namun 2 orang terjatuh dari motor, yakni Surya Aditama (17) dan Harifz Ts (17). Mereka dikroyok,” kata Kapolsekta Ngampilan Yogya Kompol Edi Sugiharto.Pengeroyokan tersebut menyebabkan Surya luka sobek di bagian perut dan mendapat 3 jahitan akibat dibabat pedang. Sedangkan Harifz terkena sabetan pedang tumpul di lengan kanan. Pengeroyokan tersebut memancing perhatian warga dan segera dibubarkan. Genk Respect melarikan diri. Begitu juga dengan korban.Namun, tersangka Gs menghalangi Harifz. Gs mengaku sebagai reserse dan akan melindunginya dari serangan Genk Respect. Oleh Gs, Harifz diajak ke Alun-alun utara dan identitasnya diperiksa. Tanpa sepengetahuan Harifz, Gs menghubungi anggota Respect lainnya dan diminta menunggu di sebuah SMA swasta di Wirobrajan, karena Harifz akan dibawa ke sana. Harifz kemudian diboncengkan motor oleh Gs menuju lokasi itu.”Korban menuruti ajakan Gs, karena mengira Gs adalah polisi. Sesampainya di kompleks SMA itu, korban baru mengetahui jika Gs adalah salah satu anggota Genk Respect,” jelas Kompol Edi.Sekitar pukul 05.00, Harifz dibawa ke sebuah lorong di sekitar sekolah dan diperlakukan tidak manusiawi. Ia ditelanjangi, disundut rokok, dipukul dan dipaksa makan mi instan basi. Bajunya dicoret-coret dengan kata-kata bertuliskan ”Respect”. Pukul 07.00, Harifz dibebaskan.Ia kemudian ke rumah temannya untuk minta pertolongan. Pukul 09.00, Harifz melapor ke Polsekta Ngampilan Yogya.Petugas segera ke asrama dan mengamankan tersangka Gs dan Ba. Sehari kemudian, petugas meringkus Ab, Bt dan Gv. Sedangkan Iq menyerahkan diri pada Selasa (3/1) dini hari. Kini petugas masih memburu anggota Genk Respect lainnya yang diduga kuat terlibat kasus tersebut.

(RSP vs BBC)
222.124.164.131/merapi/?p=1016
Read More..

Senin, 19 Desember 2011

Puluhan pelajar tawuran di depan JEC, 3 masuk RS

Puluhan pemuda pelajar SMA dan SMP di Jogja terlibat tawuran Minggu (21/8) dini hari. Tiga orang korban tepaksa dilarikan ke Rumah Sakit (RS), satu diantaranya sempat kritis karena luka bacokan.

Dari informasi yang dihimpun Harian Jogja, tawuran terjadi Minggu (21/8) sekitar pukul 00.30 WIB di depan gedung Jogja Expo Center (JEC), di daerah Banguntapan, Bantul. Kasetyadi, salah seorang security gedung JEC yang malam itu berada di lokasi kejadian menceritkan, sedikitnya 50 orang lebih pemuda menggunakan sepeda motor saling bentrok. Awalnya satu rombongan mondar mandir di depan JEC menggunakan sepeda motor, lalu berhenti di pinggir jalan.

Tiba-tiba datang rombongan lain yang juga menggunakan sepeda motor dari arah barat. Salah satu orang berteriak menyebut nama ‘BBC’ setelah itu kedua rombongan tersebut langsung saling serang. Ada yang melempar dengan batu, memukul dengan besi dan membawa alat penyetrum ada pula yang menggunakan senjata tajam. “Banyak sekali ada sekitar 50 motor kalau orangnya pasti lebih karena kan ada yang boncengan, ada yang teriak itu BBC, pas teriak itu langsung menyerang, mungkin BBC itu maksudnya geng dari Babarsari,” katanya saat ditemui di rumahnya di wilayah Gedong Kuning.

Tawuran berlangsung selama setengah jam. 15 Menit kemudian barulah petugas kepolisian datang setelah sebelumnya dihubungi salah seorang anggota polisi yang jaga di sekitar JEC. Saat tiba di lokasi, rombongan pemuda tersebut sudah melarikan diri. Namun ada tiga orang korban yang terluka parah dan ditolong oleh warga dan langsung dilarikan ke RS. Selain itu juga tertinggal dua buah sepeda motor yakni Supra X warna hitam merah No. Polisi AB 2445 JA serta Honda Beat warna hitam No. Polisi AB 2970 AF. Lampu kendaraan pecah. Selain itu menurut Kasetyadi, ada dua lelaki lainnya juga mengalami luka lecet. Namun mengaku hanya orang lewat yang terjatuh dari motor karena terkena lemparan batu.

Terpisah, Kepala Polsek Banguntapan Kompol Joko Priyono mengungkapkan, tiga korban yang dilarikan ke RS yakni Feri Ardi pelajar SMA Babarsari, Guntur Nugroho pelajar SMP (tak diketahui nama sekolah) serta Aditya Baskoro pelajar SMA 2 Muhamadiyah Jogja. Informasi tersebut didapat setelah mengecek kartu pelajar korban. Korban Feri Ardi sempat kritis dan tak sadarkan diri saat dibawa ke RS karena mengalami luka bacok dalam di bangian punggung. Adapun Aditya Baskoro luka di bagian jari hampir terputus. Keduanya kini masih dirawat di RS Panti Rapih setelah sebelumnya dibawa ke RS Harjo Lukito. Sedangkan Guntur Nugroho disebutkan sudah pulang dari RS. Ia juga mengami luka bacokan di bagian punggung.

Polisi kata dia juga menemukan tiga dompet dan tiga buah telepon genggam di lokasi kejadian selain dua motor yang tertinggal. Dari telepon genggam tersebut diketahui pesan singkat yang berisi rencana para pelaku bertemu di JEC. Namun tak secara eksplisit disebutkan untuk melakukan tawuran karena bahasanya menggunakan kode-kode tertentu. “Sepertinya mereka sudah janjian, dua rombongan itu ketemu di JEC, dari pesan singkat di HP itu begitu,” ujarnya.

Hingga kini belum diketahu motif para pelajar tersebut melakukan perkelahian. Polisi masih menyelidiki kejadian. Polisi juga enggan mengungkap identitas pemilik telepon genggam dan dompet yang berhasil disita.


(BBC vs RGR)
http://www.jogjalive.com/puluhan-pelajar-tawuran-di-depan-jec-3-masuk-rs/
Read More..

Bawa Sajam Dua Pelajar di Tangkap Buser

Gara-gara membawa senjata tajam (sajam) saat nongkrong di depan SMY Muhammadiyah II Yogyakarta. Tiga pelajar Sekolah Menegah Atas (SMA) di Kota Yogyakarta diamankan anggota Satuan Buru Sergap Polresta Yogyakarta.


Mereka diamankan pada Minggu (11/12) dini hari saat sedang nongkrong bersama kelompoknya. Operasi sajam digelar terkait maraknya aksi tawuran pelajar yang melibatkan geng di sekolah.


Mereka yaitu CP (17) warga Glagahsari, Umbulharjo, BB (16) warga Gamping dan BR (17) warga Kasihan Bantul. Dua dari mereka sedang mengikuti ujian di masing-masing sekolahnya, akibatnya polisi harus mengawal mereka ke sekolah.


“Mereka sempat dikawal hingga sekolahnya karena sedang ujian. Proses pemeriksaan masih akan dilanjutkan,”kata Kanit Buser Polresta Yogyakarta, Aiptu Edy Samosir, Rabu (14/12).


http://jogja.tribunnews.com/2011/12/14/bawa-sajam-dua-pelajar-di-tangkap-buser
Read More..

Pelajar SMA Ditangkap Intel saat Tawuran

Dua siswa SMA 11 Yogyakarta diamankan di Mapolsek Tegalrejo Yogyakarta akibat terlibat tawuran di seputaran depan SMA 2 Yogya, Rabu (14/12).

Mereka adalah BD dan IR, keduanya tercatat pelajar SMA 11 Yogyakarta. Uniknya, keduanya berhasil ditangkap setelah sempat berkelahi dengan anggota intel yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Sambil menunduk di sofa ruang penyidik, mereka mengaku membawa stun gun yang kini disita polisi untuk melindungi diri jika diserang orang lain. Sebab mereka juga diketahui menjadi anggota geng sekolah yang bernama REM.

“Kami minta mereka untuk menandatangi surat pernyataan agar tak mengulangi lagi. Orang tua mereka juga kami panggil agar melakukan pengawasan terhadap anakknya,”kata Kapolsek Tegalrejo, Kompol Irmawansyah.


(REM vs NCZ)
http://jogja.tribunnews.com/2011/12/14/pelajar-sma-ditangkap-intel-saat-tawuran
Read More..

Minggu, 18 Desember 2011

Rencana Aksi Tawuran Pelajar SMA Digagalkan Oleh Warga

Awal mula, sekelompok siswa SMA sedang berkumpul di Simpang Tiga Jati Kencana Tegalrejo Yogyakarta, warga yang melihat segerombolan tersebut mencurigai dan melaporkannya ke Polsek Tegalrejo Yogyakarta. Anggota Polsek dengan cepat menindaklanjuti laporan warga dan melakukan pengecekan serta penggeledahan terhadap pelajar tersebut dan ditemukan beberapa senjata tajam maupun tumpul. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata sekelompok pelajar tersebut hendak menyerang SMA N 2 Yogyakarta yang ketika itu sedang melaksanakan kegiatan buka bersama dan terawih. Petugas dari Polsek Tegalrejo berhasil mengamankan beberapa barang bukti, yakni 28 unit sepeda motor; 2 buah sabuk dimodif dengan gir sepeda motor; 3 buah pedang; 2 buah palu; 2 buah tongkat besi; 1 buah sabuk; 1 buah linggis; 1 buah bom Molotov berisikan paku; 1 buah rantai; 1 buah setrum kejut dan 1 botol bir. Selanjutnya sekelompok pelajar tersebut diserahkan ke Polresta Yogyakarta guna pemeriksaan lebih lanjut. Menindaklanjuti temuan tersebut, pada malam harinya Tim Buser Reskrim Polresta Yogyakarta melakukan penyisiran di TKP dan wilayah rawan lainnya. Yang berhasil menangkap sembilan pelajar di wilayah Kota Baru Gondokusuman Yogyakarta. Dari oknum pelajar yang ditangkap tersebut berhasil diamankan barang bukti berupa; 4 unit sepeda motor; 1 buah clurit; 1 buah sabuk dimodifikasi dengan gir sepeda motor; sebilah pedang dan 1 batang kayu. Untuk mencegah terjadinya bentrok antar kelompok pelajar, atau kelompok masyarakat lainnya, maka partisipasi warga sangat diperlukan. Terlebih peran dari orang tua pelajar. Bukan tidak mungkin, di tengah aktifitas sekolah, siswa atau pelajar tersebut melakukan tindakan yang berpotensi meresahkan warga dan bersifat criminal. Untuk dapat menekan angka kriminalitas di kalangan pelajar, mutlak peran masyarakat, utamanya orang tua dan sekolah sangat diperlukan.


http://jogja.polri.go.id/berita/rencana-aksi-tawuran-pelajar-sma-digagalkan-oleh-warga.html
Read More..

SMK Piri I Tawur Lawan SMK Muh 3

Tradisi tawuran antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Piri I versus SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terjadi lagi, Sabtu (01/10), sekitar pukul 11.00 WIB. Akibatnya, seorang siswa SMK Piri mengalami luka sabetan benda keras dibagian kepala hingga sempat dirawat di rumah sakit dan empat siswa diamankan di Mapolsek Umbulharjo.


Informasi yang dihimpun Tribun Jogja menyebutkan, pemicu tawuran antar kedua sekolah yang sudah bermusuhan sejak lama itu, diawali dari munculnya informasi siswa SMK Piri akan mendatangi SMK Muhammadiyah 3 (Muga) untuk mengajak tawuran.


Lantaran tak ingin sekolahnya didatangi siswa Piri, sekitar 20 rombongan bermotor siswa SMK Muga meluncur ke arah ke Piri yang berada di seputaran Stadion Mandala Krida. Sebagian dari mereka menggunakan senjata seperti besi, ruyung dan sempat terlihat membawa senjata tajam.


“Tiba tiba saya dipukuli, mereka yang datang dari belakang, tak tau juga alasanya apa,”kata Oki Setiawan Siswa SMK Piri yang menjadi korban.


Oki mengaku tak tahu menahu sebab sedang berada dipinggir jalan menunggu teman pulang sekolah. Akibatnya, kepala bagian belakang mengalami luka hingga mengeluarkan darah serta sempat dirawat di rumah sakit.


Saat Oki dihajar beramai-ramai oleh siswa siswa SMK Muga, patroli Satpol PP Pemkot Yogyakarta sedang melintas melakukan operasi pembersihan spanduk tak berijin yang berada di wilayah kota Yogyakarta.


“Anak itu dihajar beramai-ramai, ada yang menggunakan besi, tampak juga membawa senjata tajam. Melihat itu, kami kemudian melakukan pengejaran terhadap beberapa siswa pelaku hingga ada beberapa yang tertangkap,”kata Hermawan anggota Satpol PP Pemkot Yogya.


Jika tak ada patroli melintas, korban pasti sudah habis dipukuli puluhan siswa SMK Muhammadiyah 3. Sebagaian dari mereka berhasil kabur melarikan diri setelah petugas datang ke lokasi.


Sedangkan yang berhasil diamankan hingga Sabtu, (1/10), siang sekitar pukul 13.24 WIB masih diperiksa di Mapolsek Umbulharjo. Mereka antara lain, Dimas Agung, Gumilang, Muh Reza masing masing siswa berbagai tingkat kelas di SMK Muhammadiyah 3.


“Saya cuma diajak saja saat berada di sekolahan, ada kabar sekolah kita mau didatangi anak Piri. Masalah apa kita juga tak tahu tapi permusuhan seperti ini udah lama tinggalan dari alumni-alumi,”kata seorang dari mereka.


Dia mengaku, sebelunya siswa SMK Muhammadiyah 3 juga pernah menjadi korban serangan dari SMK Piri, bahkan waktu itu, rekannya mendapatkan luka bacok saat terjadi bentrok antar kedua sekolah yang selalu bersitegang sejak dahulu.


Mendengar kabar terjadi bentrok pelajar di wilayahnta, Wakapolresta Yogyakarta AKBP Darmanto tampak datang langsung di Makopolsek Umbulharjo. Dia mengaku prihatin dengan tradisi tawuran yang terjadi antar siswa di Yogyakarta yang mendapat julukan Kota Pelajar.


“Nanti akan akan ditangani polsek Umbulharjo untuk proses kelanjutanya. Kami berharap tak ada lagi permusuhan antar sekolah lagi,”kata Wakapolres.


(STPR vs MZA)
http://jateng.tribunnews.com/2011/10/01/smk-piri-i-tawur-lawan-smk-muh-3
Read More..

Geng di Yogya Tawuran, Warga Kena Sabetan Samurai

Nasib sial menimpa Dias Azam (18), warga Kauman Ngampilan Yogyakarta. Pasalnya, dia terkena sabetan pedang di tangan dan punggungnya.

Kejadian itu terjadi di Jalan Dr Wahidin Yogyakarta, pada Senin (24/1/2011) dini hari. Akibatnya, Azam harus mendapatkan perawatan medis di RS Bethesda Yogyakarta.

Menurut kesaksian teman Azam, Muh Alfiyanto (16), sebelum kejadian mereka mengendari motor hendak pulang. Saat melintas di Jalan Wahidin, keduanya melihat ada perkelahian. Diduga dua kelompok geng sekolah di Yogyakarta.

Melihat hal itu, keduanya berhenti di pinggir trotoar yang berada tak jauh dari lokasi. Namun, salah satu kelompok yang diduga kalah berlari tunggang langgang.

“Ada satu orang yang membawa senjata tajam, dia menuju ke arah saya. Saya dan azam, ketakutan melihat orang tadi. Kemudian kami berdua turut berlari. Sementara, motor yang saya kendarai saya tinggal,” ujar Alfiyanto.

Alfiyanto menambahkan, tak lama berselang dia kembali ke lokasi karena motor yang dipakainya berada di situ. “Teman saya, terkena sabetan pedang. Tapi bisa berlari meninggalkan lokasi itu,” tambahnya.

Usai keadaan mencekam, beberapa warga setempat keluar memenuhi lokasi. Begitu juga petugas Sabara dan Sat Lantas dari Polresta Jogja yang tiba di lokasi. Namun, komplotan pelaku sudah pergi meninggalkan lokasi kejadian.

Melihat kondisinya banyak orang, Alfiyanto kembali menuju ke lokasi. Sesampainya di sana, Alfiyanto mengetahui Azam sudah dalam keadaan terluka.

Mengetahui hal itu, warga maupun Alfiyanto melarikan Azam ke RS Bethesda Yogyakarta sekira pukul 00.20 WIB guna mendapatkan perawatan medis. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Saiful Anwar saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut. Pihaknya masih melakukan penyelidikan kasus ini.


http://news.okezone.com/read/2011/01/24/340/417464/geng-di-yogya-tawuran-warga-kena-sabetan-samurai
Read More..

Kamis, 15 Desember 2011

Pelajar Tawur, Satu Luka Tusuk

Tawuran pelajar SMA kembali terjadi di Kota Jogja. Sabtu (29/10), perkelahian antarpelajar pecah di sekitar SMA Muhammadiyah 2 (Muha) Jogja Jl Kapas Jogjakarta. Tawuran tak hanya diwarnai adu pukul dengan tangan kosong. Ada pula pelajar yang membawa senjata tajam (sajam). Akibatnya, seorang pelajar mengalami luka tusuk di bagian pinggang.

Pelajar yang terluka itu Arsyad Dyan Prasetyo, siswa SMAN 6 (Namche) Jogja. Dia merupakan warga Suronatan, Notoprajan, Ngampilan, Jogja.
Informasi yang diperoleh koran ini menyebutkan tawuran itu diawali saat rombongan puluhan pelajar Namche mendatangi SMA Muha. Mereka datang berombongan dengan berboncengan menggunakan sekitar 15 sepeda motor.

Sambil melintas di sekitar Muha, seorang pelajar melemparkan batu ke arah warung. Saat itu, di warung tersebut banyak terdapat siswa Muha.

”Mereka melempar batu ke arah warung. Kemudian anak-anak yang berada di dalam (warung) mencoba mengejar,” kata Yuli, pemilik warung di sekitar tempat kejadian.
Merasa sekolahnya diserang, sejumlah siswa Muha yang mengetahui kejadian itu langsung melakukan pengejaran menggunakan sepeda motor. Akhirnya, ada pelajar yang tertangkap. Terjadilah baku hantam antarmereka.

Beberapa pelajar diamankan polisi yang segera dating ke lokasi kejadian. ”Kami masih ambil keterangan dari saksi-saksi. Tawuran memang menjadi perhatian khusus di wilayah Umbulharjo. Apalagi, banyak sekolah berada di Umbulharjo,” kata Kapolsek Umbulharjo Kompol Iqbal Yudhi.

penjelasan dari : http://jogja-riot.blogspot.com/2011/10/ada-yang-kembali-ditusuk-nih.html

(RGR vs GNB)
http://www.radarjogja.co.id/nusantara/21-nusantara/22960-pelajar-tawur-satu-luka-tusuk.html
Read More..

Sekelompok remaja berseragam SMA terlibat tawuran

Sejumlah remaja berseragam SMA terlibat tawuran dan aksi lempar batu pada Senin (4/5) tengah hari di Jalan Cik Di Tiro, Terban. Akibatnya, lalu lintas macet selama beberapa lama. Aksi lempar batu itu akhirnya berhenti setelah sejumlah petugas kepolisian mengejar beberapa remaja berseragam SMA.

Menurut salah satu saksi mata, Haryanto (30), tawuran dan lempar batu antar remaja berseragam SMA itu terjadi secara tiba-tiba.

“Sekitar jam 11.30 WIB, tiba-tiba sekitar 10 anak yang memakai seragam SMA melempari kelompok lain, yang juga berseragam SMA. Kelompok yang dilempari batu akbirnya balas melempar, warga dan pengguna jalan di sini sangat takut dengan kejadian itu, karena anak-anak yang pada tawuran kelihatan nekad,” ujarnya siang ini.

Dia berkata, lalu lintas sempat macet karena pengguna jalan takut mereka terkena lemparan batu remaja yang bertikai. Tak berapa lama, imbuhnya, beberapa petugas polisi datang dan mengejar pelaku tawuran. Para pelaku tawuran akhirnya lari tunggang langgang begitu mengetahui polisi mengejar meraka. Seketika itu pula, aksi lempar batu terhenti.


http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/sekelompok-remaja-berseragam-sma-terlibat-tawuran-132386
Read More..

Enam daerah rawan tawuran di DIY

Berdasar pemetaan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja, terdapat enam daerah rawan tawuran di DIY. Lokasi rawan pertama, jalan raya sepanjang tepi Selokan Mataram. Kedua, daerah sekitar Babarsari. Ketiga, Jalan Affandi (Gejayan),  Monjali, Kaliurang, Godean, Magelang. Keempat, kompleks UGM terutama di Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya dan lembah UGM.

Kelima, kawasan sekitar balai kota jogja, GOR Amongrogo, Stadion Mandala krida dan Jalan Kusumanegara. Keenam, daerah Kota Baru Gondokusuman, Stadion Kridosono, Gereja Kota Baru dan Masjid Syuhada.

Samsury, Kepala Disdik Kota Jogja, mengatakan salah satu cara mencegah kekerasan antar pelajar adalah melalui kebijakan seragam sekolah yang sama. Tanpa atribut seragam yang dapat membedakan antar sekolah, pihaknya berharap tidak muncul sentimen yang bisa memicu kekerasan antar siswa.

“Kami berharap swasta melakukan serupa, sehingga sentimen antar sekolah bisa ditekan,” kata Samsury, saat menjadi pembicara di sarasehan pencegahan dan penanggulangan perilaku bullying pada siswa SMA/SMK di UST, Kamis (7/5) pagi ini.


http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/enam-daerah-rawan-tawuran-di-diy-132515
Read More..

Rabu, 14 Desember 2011

Waspadai geng pelajar…

Disinyalir saat ini muncul geng-geng pelajar di Jogja. Munculnya geng-geng itu memicu tawuran antar pelajar seperti yang terjadi pada Sabtu (3/10). Pihak kepolisian meminta sekolah dan masyarakat mewaspadai pembentukan geng remaja di luar sekolah.

Geng pelajar yang kerap terbentuk dengan berbagai nama dan karakter perlu diberikan perhatian dari berbagai pihak.

Wakasatreskrim Poltabes Jogja AKP Sudarmanto mengatakan sekolah harus lebih banyak berperan memberikan dorongan sekaligus kontrol kepada pada siswanya. Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Jogja, Adi Waluyo mengungkapkan tawuran itu akibat provokator.

Menurutnya sejumlah pelajar merasa panas dengan provokator yang diterimanya, lantas kemudian memberikan pelawanan kepada pelajar yang dituju. Di samping itu, ia menyikapi jika aksi nekad tersebut tak lepas dari kegiatan siswa di luar kegiatan sekolah.

Menurutnya ada juga siswa-siswa yang membentuk kelompok atau semacam geng sendiri di luar sekolah yang biasanya tidak terkontrol, “Kemarin kan hanya 8 orang anak, itu tidak ada satu persen dari total 1.088 siswa kita, padahal yang lain bagus semua,” ujarnya.

Ia sendiri mengaku telah lama mengadakan upaya pendekatan dan pembinaan bagi semua siswa sebagai antisipasi. “Bahkan sudah ada sinergi antar kepala sekolah juga, itu [tawuran] hanya karena provokator saja,” imbuhnya.

Menurutnya, pihaknya akan memberikan sanksi kepada pelajarnya. Di sisi lain, Kaur Binkops Reskrim Poltabes Jogja AKP Fajar Gemilang mengatakan, pelajar yang terjaring dalam aksi tawuran tersebut langsung dipulangkan. Dikatakannya, dalam pemeriksaan yang dilakukan, pihaknya tidak mendapati sejumlah barang bukti yang memberatkan.


http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/waspadai-geng-pelajar-135442
Read More..