Rabu, 18 Januari 2012
Jumat, 13 Januari 2012
Disdik Panggil Pihak Sekolah soal Bentrok Pelajar
Berbagai upaya untuk meminimalisir terjadi tawuran antar pelajar di Yogyakarta sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Usai sekolah polisi sudah melakukan patroli sedang Dinas pendidikan memanggil sekolah yang terlibat aksi tawuran.
Hanya saja, aksi tawuran yang terjadi antar siswa sering berada diluar jam sekolah. Beberapa kasus tercatat, aksi dilakukan usai jam belajar selesai atau dilakukan ketika libur sekolah.
Melalui Wakapolda DIY Kombes Pol Mochamad Jaelani seluruh anggota di bawah Polda DIY memanfaatkan fasilitas yang dimiliki untuk meningkatkan keamanan dengan patroli di lapangan.
Dia meminta agar patroli dilakukan pada jam-jam rawan seperti pulang sekolah dengan menggunakan kendaraan yang sudah dimiliki. Langkah itu dilakukan guna meminimalisir terjadi bentrok.
Sedangkan aksi tawuran yang melibatkan geng, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyatakan segera memanggil kepala sekolah yang terlibat pada aksi tawuran.
Hanya saja, Disdikpora membantah ada geng di sekolah. Jika memang ada, diyakini sebagai aktivitas di luar jam belajar di sekolah. “Kegiatan itu dilakukan di luar jam sekolah tetapi bagaimanapun kami akan panggil kepala sekolahnya,”kata Kasi Kesiswaan Pengembangan Pendidikan Disdikpora Kota Yogyakarta, Wisnu Sanjaya.
Selain itu diketahui, aksi tindak kekerasan yang melibatkan usai remaja pada bulan September tercatat sebanyak 33 kasus penganiayaan, Sajam 2 kasus, pengeroyokan 11 kasus.
Bulan Oktober tercatat 33 kasus penganiayaan, Sajam 2 kasus , Pengeroyokan 11 kasus. Sedangkan pada bulan November tercatat 25 kasus Penganiayaan, Sajam 3 kasus, Pengeroyokan 6 kasus.
http://jogja.tribunnews.com/2012/01/06/disdik-panggil-pihak-sekolah-soal-bentrok-pelajar
Hanya saja, aksi tawuran yang terjadi antar siswa sering berada diluar jam sekolah. Beberapa kasus tercatat, aksi dilakukan usai jam belajar selesai atau dilakukan ketika libur sekolah.
Melalui Wakapolda DIY Kombes Pol Mochamad Jaelani seluruh anggota di bawah Polda DIY memanfaatkan fasilitas yang dimiliki untuk meningkatkan keamanan dengan patroli di lapangan.
Dia meminta agar patroli dilakukan pada jam-jam rawan seperti pulang sekolah dengan menggunakan kendaraan yang sudah dimiliki. Langkah itu dilakukan guna meminimalisir terjadi bentrok.
Sedangkan aksi tawuran yang melibatkan geng, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyatakan segera memanggil kepala sekolah yang terlibat pada aksi tawuran.
Hanya saja, Disdikpora membantah ada geng di sekolah. Jika memang ada, diyakini sebagai aktivitas di luar jam belajar di sekolah. “Kegiatan itu dilakukan di luar jam sekolah tetapi bagaimanapun kami akan panggil kepala sekolahnya,”kata Kasi Kesiswaan Pengembangan Pendidikan Disdikpora Kota Yogyakarta, Wisnu Sanjaya.
Selain itu diketahui, aksi tindak kekerasan yang melibatkan usai remaja pada bulan September tercatat sebanyak 33 kasus penganiayaan, Sajam 2 kasus, pengeroyokan 11 kasus.
Bulan Oktober tercatat 33 kasus penganiayaan, Sajam 2 kasus , Pengeroyokan 11 kasus. Sedangkan pada bulan November tercatat 25 kasus Penganiayaan, Sajam 3 kasus, Pengeroyokan 6 kasus.
http://jogja.tribunnews.com/2012/01/06/disdik-panggil-pihak-sekolah-soal-bentrok-pelajar
Kamis, 12 Januari 2012
Ini Data Tawuran di Kota Yogya
Ini beberapa catatan Tribun Jogja tawuran antar pelajar yang terjadi di Kota Yogyakarta,
- Tawuran antara pelajar antara SMU Gama Yogyakarta dengan pelajar dari SMU Bopkri 2 Yogyakarta terjadi sekitar pukul 12.00 WIB tepatnya di belakang Galeria Mall. Seorang ditangkap sebab melakukan penusukan, Jumat (22/4/2011).
- Tawuran antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Piri I versus SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terjadi lagi, Sabtu (01/10/2011), sekitar pukul 11.00 WIB. Akibatnya, seorang siswa SMK Piri mengalami luka sabetan benda keras dibagian kepala hingga sempat dirawat di rumah sakit dan empat siswa diamankan di Mapolsek Umbulharjo.
- SMA 6 Yogyakarta dengan SMA Muhammadiyah 2. Mereka juga membawa senjata tajam untuk melukai pelajar lain hingga seorang pelajar terkena luka tusuk., Sabtu (29/10/2011)
- Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Yogyakarta berhasil menangkap IP (17) alias koplo, pelajar warga Sidoagung, Godean yang tercatat sebagai siswa kelas 1 di satu Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta daerah Wirobrajan, Yogyakarta. Dia terlibat aksi tawuran dengan pelajar lain dari SMK 2 Yogya pada Sabtu, (4/12).
- Dua siswa SMA 11 Yogyakarta diamankan di Mapolsek Tegalrejo Yogyakarta akibat terlibat tawuran di seputaran depan SMA 2 Yogya, Rabu (14/12). Mereka membawa stun gun saat berada dilokasi tawuran.
- Tawuran antara pelajar antara SMU Gama Yogyakarta dengan pelajar dari SMU Bopkri 2 Yogyakarta terjadi sekitar pukul 12.00 WIB tepatnya di belakang Galeria Mall. Seorang ditangkap sebab melakukan penusukan, Jumat (22/4/2011).
- Tawuran antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Piri I versus SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terjadi lagi, Sabtu (01/10/2011), sekitar pukul 11.00 WIB. Akibatnya, seorang siswa SMK Piri mengalami luka sabetan benda keras dibagian kepala hingga sempat dirawat di rumah sakit dan empat siswa diamankan di Mapolsek Umbulharjo.
- SMA 6 Yogyakarta dengan SMA Muhammadiyah 2. Mereka juga membawa senjata tajam untuk melukai pelajar lain hingga seorang pelajar terkena luka tusuk., Sabtu (29/10/2011)
- Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Yogyakarta berhasil menangkap IP (17) alias koplo, pelajar warga Sidoagung, Godean yang tercatat sebagai siswa kelas 1 di satu Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta daerah Wirobrajan, Yogyakarta. Dia terlibat aksi tawuran dengan pelajar lain dari SMK 2 Yogya pada Sabtu, (4/12).
- Dua siswa SMA 11 Yogyakarta diamankan di Mapolsek Tegalrejo Yogyakarta akibat terlibat tawuran di seputaran depan SMA 2 Yogya, Rabu (14/12). Mereka membawa stun gun saat berada dilokasi tawuran.
http://jogja.tribunnews.com/2012/01/06/ini-data-tawuran-di-kota-yogya
Kamis, 05 Januari 2012
Anak Pelajar Ngaku Reserse
Lima pelajar SMA swasta di Yogya yang tergabung dalam Genk Respect yakni Gs (19), Ba (16), An (17), Bt (18) dan Iq (17) serta seorang pengangguran Gv (17), Selasa (3/1) ditangkap petugas Polsekta Ngampilan usai menyekap serta menganiaya seorang pelajar SMA negeri di Sleman, Harifz Ts (17). Saat disekap, korban dipukuli, ditelanjangi, disundut rokok dan dipaksa memakan mie instan basi.Aksi penganiayaan itu diduga dilatarbelakangi perang genk sekolah.Para pelaku juga mengaku sebagai anggota reserse saat menculik korban.Menurut keterangan, aksi pengeroyokan terjadi di Jalan Ahmad Dahlan Ngampilan Yogya pada Minggu (1/1) dini hari. Sebelumnya 2 genk sekolah yakni BBC dan Respect sudah saling tantang dan siap untuk tawuran. Mereka bahkan mempersenjatai diri dengan pedang. Genk BBC menunggu di seputaran Balai Kota Yogya, sedangkan Respect menunggu di di Jalan Ahmad Dahlan.Karena tak sabar, anggota Geng Respect ke Balai Kota Yogya. Karena personelnya kalah banyak, mereka memilih kembali ke Jalan Ahmad Dahlan. Tak berselang lama, sekitar 10 anggota BBC yang berboncengan 5 sepeda motor menuju ke Jalan Ahmad Dahlan. Sesampainya di sana, ternyata mereka sudah dikepung anggota Genk Respect.”Anggota genk BBC dilempari batu. Sebagian dapat menyelamatkan diri, namun 2 orang terjatuh dari motor, yakni Surya Aditama (17) dan Harifz Ts (17). Mereka dikroyok,” kata Kapolsekta Ngampilan Yogya Kompol Edi Sugiharto.Pengeroyokan tersebut menyebabkan Surya luka sobek di bagian perut dan mendapat 3 jahitan akibat dibabat pedang. Sedangkan Harifz terkena sabetan pedang tumpul di lengan kanan. Pengeroyokan tersebut memancing perhatian warga dan segera dibubarkan. Genk Respect melarikan diri. Begitu juga dengan korban.Namun, tersangka Gs menghalangi Harifz. Gs mengaku sebagai reserse dan akan melindunginya dari serangan Genk Respect. Oleh Gs, Harifz diajak ke Alun-alun utara dan identitasnya diperiksa. Tanpa sepengetahuan Harifz, Gs menghubungi anggota Respect lainnya dan diminta menunggu di sebuah SMA swasta di Wirobrajan, karena Harifz akan dibawa ke sana. Harifz kemudian diboncengkan motor oleh Gs menuju lokasi itu.”Korban menuruti ajakan Gs, karena mengira Gs adalah polisi. Sesampainya di kompleks SMA itu, korban baru mengetahui jika Gs adalah salah satu anggota Genk Respect,” jelas Kompol Edi.Sekitar pukul 05.00, Harifz dibawa ke sebuah lorong di sekitar sekolah dan diperlakukan tidak manusiawi. Ia ditelanjangi, disundut rokok, dipukul dan dipaksa makan mi instan basi. Bajunya dicoret-coret dengan kata-kata bertuliskan ”Respect”. Pukul 07.00, Harifz dibebaskan.Ia kemudian ke rumah temannya untuk minta pertolongan. Pukul 09.00, Harifz melapor ke Polsekta Ngampilan Yogya.Petugas segera ke asrama dan mengamankan tersangka Gs dan Ba. Sehari kemudian, petugas meringkus Ab, Bt dan Gv. Sedangkan Iq menyerahkan diri pada Selasa (3/1) dini hari. Kini petugas masih memburu anggota Genk Respect lainnya yang diduga kuat terlibat kasus tersebut.
(RSP vs BBC)
222.124.164.131/merapi/?p=1016
(RSP vs BBC)
222.124.164.131/merapi/?p=1016
Senin, 19 Desember 2011
Puluhan pelajar tawuran di depan JEC, 3 masuk RS
Puluhan pemuda pelajar SMA dan SMP di Jogja terlibat tawuran Minggu (21/8) dini hari. Tiga orang korban tepaksa dilarikan ke Rumah Sakit (RS), satu diantaranya sempat kritis karena luka bacokan.
Dari informasi yang dihimpun Harian Jogja, tawuran terjadi Minggu (21/8) sekitar pukul 00.30 WIB di depan gedung Jogja Expo Center (JEC), di daerah Banguntapan, Bantul. Kasetyadi, salah seorang security gedung JEC yang malam itu berada di lokasi kejadian menceritkan, sedikitnya 50 orang lebih pemuda menggunakan sepeda motor saling bentrok. Awalnya satu rombongan mondar mandir di depan JEC menggunakan sepeda motor, lalu berhenti di pinggir jalan.
Tiba-tiba datang rombongan lain yang juga menggunakan sepeda motor dari arah barat. Salah satu orang berteriak menyebut nama ‘BBC’ setelah itu kedua rombongan tersebut langsung saling serang. Ada yang melempar dengan batu, memukul dengan besi dan membawa alat penyetrum ada pula yang menggunakan senjata tajam. “Banyak sekali ada sekitar 50 motor kalau orangnya pasti lebih karena kan ada yang boncengan, ada yang teriak itu BBC, pas teriak itu langsung menyerang, mungkin BBC itu maksudnya geng dari Babarsari,” katanya saat ditemui di rumahnya di wilayah Gedong Kuning.
Tawuran berlangsung selama setengah jam. 15 Menit kemudian barulah petugas kepolisian datang setelah sebelumnya dihubungi salah seorang anggota polisi yang jaga di sekitar JEC. Saat tiba di lokasi, rombongan pemuda tersebut sudah melarikan diri. Namun ada tiga orang korban yang terluka parah dan ditolong oleh warga dan langsung dilarikan ke RS. Selain itu juga tertinggal dua buah sepeda motor yakni Supra X warna hitam merah No. Polisi AB 2445 JA serta Honda Beat warna hitam No. Polisi AB 2970 AF. Lampu kendaraan pecah. Selain itu menurut Kasetyadi, ada dua lelaki lainnya juga mengalami luka lecet. Namun mengaku hanya orang lewat yang terjatuh dari motor karena terkena lemparan batu.
Terpisah, Kepala Polsek Banguntapan Kompol Joko Priyono mengungkapkan, tiga korban yang dilarikan ke RS yakni Feri Ardi pelajar SMA Babarsari, Guntur Nugroho pelajar SMP (tak diketahui nama sekolah) serta Aditya Baskoro pelajar SMA 2 Muhamadiyah Jogja. Informasi tersebut didapat setelah mengecek kartu pelajar korban. Korban Feri Ardi sempat kritis dan tak sadarkan diri saat dibawa ke RS karena mengalami luka bacok dalam di bangian punggung. Adapun Aditya Baskoro luka di bagian jari hampir terputus. Keduanya kini masih dirawat di RS Panti Rapih setelah sebelumnya dibawa ke RS Harjo Lukito. Sedangkan Guntur Nugroho disebutkan sudah pulang dari RS. Ia juga mengami luka bacokan di bagian punggung.
Polisi kata dia juga menemukan tiga dompet dan tiga buah telepon genggam di lokasi kejadian selain dua motor yang tertinggal. Dari telepon genggam tersebut diketahui pesan singkat yang berisi rencana para pelaku bertemu di JEC. Namun tak secara eksplisit disebutkan untuk melakukan tawuran karena bahasanya menggunakan kode-kode tertentu. “Sepertinya mereka sudah janjian, dua rombongan itu ketemu di JEC, dari pesan singkat di HP itu begitu,” ujarnya.
Hingga kini belum diketahu motif para pelajar tersebut melakukan perkelahian. Polisi masih menyelidiki kejadian. Polisi juga enggan mengungkap identitas pemilik telepon genggam dan dompet yang berhasil disita.
(BBC vs RGR)
http://www.jogjalive.com/puluhan-pelajar-tawuran-di-depan-jec-3-masuk-rs/
Dari informasi yang dihimpun Harian Jogja, tawuran terjadi Minggu (21/8) sekitar pukul 00.30 WIB di depan gedung Jogja Expo Center (JEC), di daerah Banguntapan, Bantul. Kasetyadi, salah seorang security gedung JEC yang malam itu berada di lokasi kejadian menceritkan, sedikitnya 50 orang lebih pemuda menggunakan sepeda motor saling bentrok. Awalnya satu rombongan mondar mandir di depan JEC menggunakan sepeda motor, lalu berhenti di pinggir jalan.
Tiba-tiba datang rombongan lain yang juga menggunakan sepeda motor dari arah barat. Salah satu orang berteriak menyebut nama ‘BBC’ setelah itu kedua rombongan tersebut langsung saling serang. Ada yang melempar dengan batu, memukul dengan besi dan membawa alat penyetrum ada pula yang menggunakan senjata tajam. “Banyak sekali ada sekitar 50 motor kalau orangnya pasti lebih karena kan ada yang boncengan, ada yang teriak itu BBC, pas teriak itu langsung menyerang, mungkin BBC itu maksudnya geng dari Babarsari,” katanya saat ditemui di rumahnya di wilayah Gedong Kuning.
Tawuran berlangsung selama setengah jam. 15 Menit kemudian barulah petugas kepolisian datang setelah sebelumnya dihubungi salah seorang anggota polisi yang jaga di sekitar JEC. Saat tiba di lokasi, rombongan pemuda tersebut sudah melarikan diri. Namun ada tiga orang korban yang terluka parah dan ditolong oleh warga dan langsung dilarikan ke RS. Selain itu juga tertinggal dua buah sepeda motor yakni Supra X warna hitam merah No. Polisi AB 2445 JA serta Honda Beat warna hitam No. Polisi AB 2970 AF. Lampu kendaraan pecah. Selain itu menurut Kasetyadi, ada dua lelaki lainnya juga mengalami luka lecet. Namun mengaku hanya orang lewat yang terjatuh dari motor karena terkena lemparan batu.
Terpisah, Kepala Polsek Banguntapan Kompol Joko Priyono mengungkapkan, tiga korban yang dilarikan ke RS yakni Feri Ardi pelajar SMA Babarsari, Guntur Nugroho pelajar SMP (tak diketahui nama sekolah) serta Aditya Baskoro pelajar SMA 2 Muhamadiyah Jogja. Informasi tersebut didapat setelah mengecek kartu pelajar korban. Korban Feri Ardi sempat kritis dan tak sadarkan diri saat dibawa ke RS karena mengalami luka bacok dalam di bangian punggung. Adapun Aditya Baskoro luka di bagian jari hampir terputus. Keduanya kini masih dirawat di RS Panti Rapih setelah sebelumnya dibawa ke RS Harjo Lukito. Sedangkan Guntur Nugroho disebutkan sudah pulang dari RS. Ia juga mengami luka bacokan di bagian punggung.
Polisi kata dia juga menemukan tiga dompet dan tiga buah telepon genggam di lokasi kejadian selain dua motor yang tertinggal. Dari telepon genggam tersebut diketahui pesan singkat yang berisi rencana para pelaku bertemu di JEC. Namun tak secara eksplisit disebutkan untuk melakukan tawuran karena bahasanya menggunakan kode-kode tertentu. “Sepertinya mereka sudah janjian, dua rombongan itu ketemu di JEC, dari pesan singkat di HP itu begitu,” ujarnya.
Hingga kini belum diketahu motif para pelajar tersebut melakukan perkelahian. Polisi masih menyelidiki kejadian. Polisi juga enggan mengungkap identitas pemilik telepon genggam dan dompet yang berhasil disita.
(BBC vs RGR)
http://www.jogjalive.com/puluhan-pelajar-tawuran-di-depan-jec-3-masuk-rs/
Bawa Sajam Dua Pelajar di Tangkap Buser
Gara-gara membawa senjata tajam (sajam) saat nongkrong di depan SMY Muhammadiyah II Yogyakarta. Tiga pelajar Sekolah Menegah Atas (SMA) di Kota Yogyakarta diamankan anggota Satuan Buru Sergap Polresta Yogyakarta.
Mereka diamankan pada Minggu (11/12) dini hari saat sedang nongkrong bersama kelompoknya. Operasi sajam digelar terkait maraknya aksi tawuran pelajar yang melibatkan geng di sekolah.
Mereka yaitu CP (17) warga Glagahsari, Umbulharjo, BB (16) warga Gamping dan BR (17) warga Kasihan Bantul. Dua dari mereka sedang mengikuti ujian di masing-masing sekolahnya, akibatnya polisi harus mengawal mereka ke sekolah.
“Mereka sempat dikawal hingga sekolahnya karena sedang ujian. Proses pemeriksaan masih akan dilanjutkan,”kata Kanit Buser Polresta Yogyakarta, Aiptu Edy Samosir, Rabu (14/12).
http://jogja.tribunnews.com/2011/12/14/bawa-sajam-dua-pelajar-di-tangkap-buser
Mereka diamankan pada Minggu (11/12) dini hari saat sedang nongkrong bersama kelompoknya. Operasi sajam digelar terkait maraknya aksi tawuran pelajar yang melibatkan geng di sekolah.
Mereka yaitu CP (17) warga Glagahsari, Umbulharjo, BB (16) warga Gamping dan BR (17) warga Kasihan Bantul. Dua dari mereka sedang mengikuti ujian di masing-masing sekolahnya, akibatnya polisi harus mengawal mereka ke sekolah.
“Mereka sempat dikawal hingga sekolahnya karena sedang ujian. Proses pemeriksaan masih akan dilanjutkan,”kata Kanit Buser Polresta Yogyakarta, Aiptu Edy Samosir, Rabu (14/12).
http://jogja.tribunnews.com/2011/12/14/bawa-sajam-dua-pelajar-di-tangkap-buser
Pelajar SMA Ditangkap Intel saat Tawuran
Dua siswa SMA 11 Yogyakarta diamankan di Mapolsek Tegalrejo Yogyakarta akibat terlibat tawuran di seputaran depan SMA 2 Yogya, Rabu (14/12).
Mereka adalah BD dan IR, keduanya tercatat pelajar SMA 11 Yogyakarta. Uniknya, keduanya berhasil ditangkap setelah sempat berkelahi dengan anggota intel yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Sambil menunduk di sofa ruang penyidik, mereka mengaku membawa stun gun yang kini disita polisi untuk melindungi diri jika diserang orang lain. Sebab mereka juga diketahui menjadi anggota geng sekolah yang bernama REM.
“Kami minta mereka untuk menandatangi surat pernyataan agar tak mengulangi lagi. Orang tua mereka juga kami panggil agar melakukan pengawasan terhadap anakknya,”kata Kapolsek Tegalrejo, Kompol Irmawansyah.
(REM vs NCZ)
http://jogja.tribunnews.com/2011/12/14/pelajar-sma-ditangkap-intel-saat-tawuran
Mereka adalah BD dan IR, keduanya tercatat pelajar SMA 11 Yogyakarta. Uniknya, keduanya berhasil ditangkap setelah sempat berkelahi dengan anggota intel yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Sambil menunduk di sofa ruang penyidik, mereka mengaku membawa stun gun yang kini disita polisi untuk melindungi diri jika diserang orang lain. Sebab mereka juga diketahui menjadi anggota geng sekolah yang bernama REM.
“Kami minta mereka untuk menandatangi surat pernyataan agar tak mengulangi lagi. Orang tua mereka juga kami panggil agar melakukan pengawasan terhadap anakknya,”kata Kapolsek Tegalrejo, Kompol Irmawansyah.
(REM vs NCZ)
http://jogja.tribunnews.com/2011/12/14/pelajar-sma-ditangkap-intel-saat-tawuran
Minggu, 18 Desember 2011
Rencana Aksi Tawuran Pelajar SMA Digagalkan Oleh Warga
Awal mula, sekelompok siswa SMA sedang berkumpul di Simpang Tiga Jati Kencana Tegalrejo Yogyakarta, warga yang melihat segerombolan tersebut mencurigai dan melaporkannya ke Polsek Tegalrejo Yogyakarta. Anggota Polsek dengan cepat menindaklanjuti laporan warga dan melakukan pengecekan serta penggeledahan terhadap pelajar tersebut dan ditemukan beberapa senjata tajam maupun tumpul. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata sekelompok pelajar tersebut hendak menyerang SMA N 2 Yogyakarta yang ketika itu sedang melaksanakan kegiatan buka bersama dan terawih. Petugas dari Polsek Tegalrejo berhasil mengamankan beberapa barang bukti, yakni 28 unit sepeda motor; 2 buah sabuk dimodif dengan gir sepeda motor; 3 buah pedang; 2 buah palu; 2 buah tongkat besi; 1 buah sabuk; 1 buah linggis; 1 buah bom Molotov berisikan paku; 1 buah rantai; 1 buah setrum kejut dan 1 botol bir. Selanjutnya sekelompok pelajar tersebut diserahkan ke Polresta Yogyakarta guna pemeriksaan lebih lanjut. Menindaklanjuti temuan tersebut, pada malam harinya Tim Buser Reskrim Polresta Yogyakarta melakukan penyisiran di TKP dan wilayah rawan lainnya. Yang berhasil menangkap sembilan pelajar di wilayah Kota Baru Gondokusuman Yogyakarta. Dari oknum pelajar yang ditangkap tersebut berhasil diamankan barang bukti berupa; 4 unit sepeda motor; 1 buah clurit; 1 buah sabuk dimodifikasi dengan gir sepeda motor; sebilah pedang dan 1 batang kayu. Untuk mencegah terjadinya bentrok antar kelompok pelajar, atau kelompok masyarakat lainnya, maka partisipasi warga sangat diperlukan. Terlebih peran dari orang tua pelajar. Bukan tidak mungkin, di tengah aktifitas sekolah, siswa atau pelajar tersebut melakukan tindakan yang berpotensi meresahkan warga dan bersifat criminal. Untuk dapat menekan angka kriminalitas di kalangan pelajar, mutlak peran masyarakat, utamanya orang tua dan sekolah sangat diperlukan.
http://jogja.polri.go.id/berita/rencana-aksi-tawuran-pelajar-sma-digagalkan-oleh-warga.html
http://jogja.polri.go.id/berita/rencana-aksi-tawuran-pelajar-sma-digagalkan-oleh-warga.html
SMK Piri I Tawur Lawan SMK Muh 3
Tradisi tawuran antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Piri I versus SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta terjadi lagi, Sabtu (01/10), sekitar pukul 11.00 WIB. Akibatnya, seorang siswa SMK Piri mengalami luka sabetan benda keras dibagian kepala hingga sempat dirawat di rumah sakit dan empat siswa diamankan di Mapolsek Umbulharjo. Informasi yang dihimpun Tribun Jogja menyebutkan, pemicu tawuran antar kedua sekolah yang sudah bermusuhan sejak lama itu, diawali dari munculnya informasi siswa SMK Piri akan mendatangi SMK Muhammadiyah 3 (Muga) untuk mengajak tawuran.
Lantaran tak ingin sekolahnya didatangi siswa Piri, sekitar 20 rombongan bermotor siswa SMK Muga meluncur ke arah ke Piri yang berada di seputaran Stadion Mandala Krida. Sebagian dari mereka menggunakan senjata seperti besi, ruyung dan sempat terlihat membawa senjata tajam.
“Tiba tiba saya dipukuli, mereka yang datang dari belakang, tak tau juga alasanya apa,”kata Oki Setiawan Siswa SMK Piri yang menjadi korban.
Oki mengaku tak tahu menahu sebab sedang berada dipinggir jalan menunggu teman pulang sekolah. Akibatnya, kepala bagian belakang mengalami luka hingga mengeluarkan darah serta sempat dirawat di rumah sakit.
Saat Oki dihajar beramai-ramai oleh siswa siswa SMK Muga, patroli Satpol PP Pemkot Yogyakarta sedang melintas melakukan operasi pembersihan spanduk tak berijin yang berada di wilayah kota Yogyakarta.
“Anak itu dihajar beramai-ramai, ada yang menggunakan besi, tampak juga membawa senjata tajam. Melihat itu, kami kemudian melakukan pengejaran terhadap beberapa siswa pelaku hingga ada beberapa yang tertangkap,”kata Hermawan anggota Satpol PP Pemkot Yogya.
Jika tak ada patroli melintas, korban pasti sudah habis dipukuli puluhan siswa SMK Muhammadiyah 3. Sebagaian dari mereka berhasil kabur melarikan diri setelah petugas datang ke lokasi.
Sedangkan yang berhasil diamankan hingga Sabtu, (1/10), siang sekitar pukul 13.24 WIB masih diperiksa di Mapolsek Umbulharjo. Mereka antara lain, Dimas Agung, Gumilang, Muh Reza masing masing siswa berbagai tingkat kelas di SMK Muhammadiyah 3.
“Saya cuma diajak saja saat berada di sekolahan, ada kabar sekolah kita mau didatangi anak Piri. Masalah apa kita juga tak tahu tapi permusuhan seperti ini udah lama tinggalan dari alumni-alumi,”kata seorang dari mereka.
Dia mengaku, sebelunya siswa SMK Muhammadiyah 3 juga pernah menjadi korban serangan dari SMK Piri, bahkan waktu itu, rekannya mendapatkan luka bacok saat terjadi bentrok antar kedua sekolah yang selalu bersitegang sejak dahulu.
Mendengar kabar terjadi bentrok pelajar di wilayahnta, Wakapolresta Yogyakarta AKBP Darmanto tampak datang langsung di Makopolsek Umbulharjo. Dia mengaku prihatin dengan tradisi tawuran yang terjadi antar siswa di Yogyakarta yang mendapat julukan Kota Pelajar.
“Nanti akan akan ditangani polsek Umbulharjo untuk proses kelanjutanya. Kami berharap tak ada lagi permusuhan antar sekolah lagi,”kata Wakapolres.
(STPR vs MZA)
http://jateng.tribunnews.com/2011/10/01/smk-piri-i-tawur-lawan-smk-muh-3
Geng di Yogya Tawuran, Warga Kena Sabetan Samurai
Nasib sial menimpa Dias Azam (18), warga Kauman Ngampilan Yogyakarta. Pasalnya, dia terkena sabetan pedang di tangan dan punggungnya.
Kejadian itu terjadi di Jalan Dr Wahidin Yogyakarta, pada Senin (24/1/2011) dini hari. Akibatnya, Azam harus mendapatkan perawatan medis di RS Bethesda Yogyakarta.
Menurut kesaksian teman Azam, Muh Alfiyanto (16), sebelum kejadian mereka mengendari motor hendak pulang. Saat melintas di Jalan Wahidin, keduanya melihat ada perkelahian. Diduga dua kelompok geng sekolah di Yogyakarta.
Melihat hal itu, keduanya berhenti di pinggir trotoar yang berada tak jauh dari lokasi. Namun, salah satu kelompok yang diduga kalah berlari tunggang langgang.
“Ada satu orang yang membawa senjata tajam, dia menuju ke arah saya. Saya dan azam, ketakutan melihat orang tadi. Kemudian kami berdua turut berlari. Sementara, motor yang saya kendarai saya tinggal,” ujar Alfiyanto.
Alfiyanto menambahkan, tak lama berselang dia kembali ke lokasi karena motor yang dipakainya berada di situ. “Teman saya, terkena sabetan pedang. Tapi bisa berlari meninggalkan lokasi itu,” tambahnya.
Usai keadaan mencekam, beberapa warga setempat keluar memenuhi lokasi. Begitu juga petugas Sabara dan Sat Lantas dari Polresta Jogja yang tiba di lokasi. Namun, komplotan pelaku sudah pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Melihat kondisinya banyak orang, Alfiyanto kembali menuju ke lokasi. Sesampainya di sana, Alfiyanto mengetahui Azam sudah dalam keadaan terluka.
Mengetahui hal itu, warga maupun Alfiyanto melarikan Azam ke RS Bethesda Yogyakarta sekira pukul 00.20 WIB guna mendapatkan perawatan medis. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Saiful Anwar saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut. Pihaknya masih melakukan penyelidikan kasus ini.
http://news.okezone.com/read/2011/01/24/340/417464/geng-di-yogya-tawuran-warga-kena-sabetan-samurai
Kejadian itu terjadi di Jalan Dr Wahidin Yogyakarta, pada Senin (24/1/2011) dini hari. Akibatnya, Azam harus mendapatkan perawatan medis di RS Bethesda Yogyakarta.
Menurut kesaksian teman Azam, Muh Alfiyanto (16), sebelum kejadian mereka mengendari motor hendak pulang. Saat melintas di Jalan Wahidin, keduanya melihat ada perkelahian. Diduga dua kelompok geng sekolah di Yogyakarta.
Melihat hal itu, keduanya berhenti di pinggir trotoar yang berada tak jauh dari lokasi. Namun, salah satu kelompok yang diduga kalah berlari tunggang langgang.
“Ada satu orang yang membawa senjata tajam, dia menuju ke arah saya. Saya dan azam, ketakutan melihat orang tadi. Kemudian kami berdua turut berlari. Sementara, motor yang saya kendarai saya tinggal,” ujar Alfiyanto.
Alfiyanto menambahkan, tak lama berselang dia kembali ke lokasi karena motor yang dipakainya berada di situ. “Teman saya, terkena sabetan pedang. Tapi bisa berlari meninggalkan lokasi itu,” tambahnya.
Usai keadaan mencekam, beberapa warga setempat keluar memenuhi lokasi. Begitu juga petugas Sabara dan Sat Lantas dari Polresta Jogja yang tiba di lokasi. Namun, komplotan pelaku sudah pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Melihat kondisinya banyak orang, Alfiyanto kembali menuju ke lokasi. Sesampainya di sana, Alfiyanto mengetahui Azam sudah dalam keadaan terluka.
Mengetahui hal itu, warga maupun Alfiyanto melarikan Azam ke RS Bethesda Yogyakarta sekira pukul 00.20 WIB guna mendapatkan perawatan medis. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Saiful Anwar saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut. Pihaknya masih melakukan penyelidikan kasus ini.
http://news.okezone.com/read/2011/01/24/340/417464/geng-di-yogya-tawuran-warga-kena-sabetan-samurai
Kamis, 15 Desember 2011
Pelajar Tawur, Satu Luka Tusuk
Tawuran pelajar SMA kembali terjadi di Kota Jogja. Sabtu (29/10), perkelahian antarpelajar pecah di sekitar SMA Muhammadiyah 2 (Muha) Jogja Jl Kapas Jogjakarta. Tawuran tak hanya diwarnai adu pukul dengan tangan kosong. Ada pula pelajar yang membawa senjata tajam (sajam). Akibatnya, seorang pelajar mengalami luka tusuk di bagian pinggang.Pelajar yang terluka itu Arsyad Dyan Prasetyo, siswa SMAN 6 (Namche) Jogja. Dia merupakan warga Suronatan, Notoprajan, Ngampilan, Jogja.
Informasi yang diperoleh koran ini menyebutkan tawuran itu diawali saat rombongan puluhan pelajar Namche mendatangi SMA Muha. Mereka datang berombongan dengan berboncengan menggunakan sekitar 15 sepeda motor.
Sambil melintas di sekitar Muha, seorang pelajar melemparkan batu ke arah warung. Saat itu, di warung tersebut banyak terdapat siswa Muha.
”Mereka melempar batu ke arah warung. Kemudian anak-anak yang berada di dalam (warung) mencoba mengejar,” kata Yuli, pemilik warung di sekitar tempat kejadian.
Merasa sekolahnya diserang, sejumlah siswa Muha yang mengetahui kejadian itu langsung melakukan pengejaran menggunakan sepeda motor. Akhirnya, ada pelajar yang tertangkap. Terjadilah baku hantam antarmereka.
Beberapa pelajar diamankan polisi yang segera dating ke lokasi kejadian. ”Kami masih ambil keterangan dari saksi-saksi. Tawuran memang menjadi perhatian khusus di wilayah Umbulharjo. Apalagi, banyak sekolah berada di Umbulharjo,” kata Kapolsek Umbulharjo Kompol Iqbal Yudhi.
penjelasan dari : http://jogja-riot.blogspot.com/2011/10/ada-yang-kembali-ditusuk-nih.html
(RGR vs GNB)
http://www.radarjogja.co.id/nusantara/21-nusantara/22960-pelajar-tawur-satu-luka-tusuk.html
Sekelompok remaja berseragam SMA terlibat tawuran
Sejumlah remaja berseragam SMA terlibat tawuran dan aksi lempar batu pada Senin (4/5) tengah hari di Jalan Cik Di Tiro, Terban. Akibatnya, lalu lintas macet selama beberapa lama. Aksi lempar batu itu akhirnya berhenti setelah sejumlah petugas kepolisian mengejar beberapa remaja berseragam SMA.
Menurut salah satu saksi mata, Haryanto (30), tawuran dan lempar batu antar remaja berseragam SMA itu terjadi secara tiba-tiba.
“Sekitar jam 11.30 WIB, tiba-tiba sekitar 10 anak yang memakai seragam SMA melempari kelompok lain, yang juga berseragam SMA. Kelompok yang dilempari batu akbirnya balas melempar, warga dan pengguna jalan di sini sangat takut dengan kejadian itu, karena anak-anak yang pada tawuran kelihatan nekad,” ujarnya siang ini.
Dia berkata, lalu lintas sempat macet karena pengguna jalan takut mereka terkena lemparan batu remaja yang bertikai. Tak berapa lama, imbuhnya, beberapa petugas polisi datang dan mengejar pelaku tawuran. Para pelaku tawuran akhirnya lari tunggang langgang begitu mengetahui polisi mengejar meraka. Seketika itu pula, aksi lempar batu terhenti.
http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/sekelompok-remaja-berseragam-sma-terlibat-tawuran-132386
Menurut salah satu saksi mata, Haryanto (30), tawuran dan lempar batu antar remaja berseragam SMA itu terjadi secara tiba-tiba.
“Sekitar jam 11.30 WIB, tiba-tiba sekitar 10 anak yang memakai seragam SMA melempari kelompok lain, yang juga berseragam SMA. Kelompok yang dilempari batu akbirnya balas melempar, warga dan pengguna jalan di sini sangat takut dengan kejadian itu, karena anak-anak yang pada tawuran kelihatan nekad,” ujarnya siang ini.
Dia berkata, lalu lintas sempat macet karena pengguna jalan takut mereka terkena lemparan batu remaja yang bertikai. Tak berapa lama, imbuhnya, beberapa petugas polisi datang dan mengejar pelaku tawuran. Para pelaku tawuran akhirnya lari tunggang langgang begitu mengetahui polisi mengejar meraka. Seketika itu pula, aksi lempar batu terhenti.
http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/sekelompok-remaja-berseragam-sma-terlibat-tawuran-132386
Enam daerah rawan tawuran di DIY
Berdasar pemetaan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja, terdapat enam daerah rawan tawuran di DIY. Lokasi rawan pertama, jalan raya sepanjang tepi Selokan Mataram. Kedua, daerah sekitar Babarsari. Ketiga, Jalan Affandi (Gejayan), Monjali, Kaliurang, Godean, Magelang. Keempat, kompleks UGM terutama di Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya dan lembah UGM.
Kelima, kawasan sekitar balai kota jogja, GOR Amongrogo, Stadion Mandala krida dan Jalan Kusumanegara. Keenam, daerah Kota Baru Gondokusuman, Stadion Kridosono, Gereja Kota Baru dan Masjid Syuhada.
Samsury, Kepala Disdik Kota Jogja, mengatakan salah satu cara mencegah kekerasan antar pelajar adalah melalui kebijakan seragam sekolah yang sama. Tanpa atribut seragam yang dapat membedakan antar sekolah, pihaknya berharap tidak muncul sentimen yang bisa memicu kekerasan antar siswa.
“Kami berharap swasta melakukan serupa, sehingga sentimen antar sekolah bisa ditekan,” kata Samsury, saat menjadi pembicara di sarasehan pencegahan dan penanggulangan perilaku bullying pada siswa SMA/SMK di UST, Kamis (7/5) pagi ini.
http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/enam-daerah-rawan-tawuran-di-diy-132515
Kelima, kawasan sekitar balai kota jogja, GOR Amongrogo, Stadion Mandala krida dan Jalan Kusumanegara. Keenam, daerah Kota Baru Gondokusuman, Stadion Kridosono, Gereja Kota Baru dan Masjid Syuhada.
Samsury, Kepala Disdik Kota Jogja, mengatakan salah satu cara mencegah kekerasan antar pelajar adalah melalui kebijakan seragam sekolah yang sama. Tanpa atribut seragam yang dapat membedakan antar sekolah, pihaknya berharap tidak muncul sentimen yang bisa memicu kekerasan antar siswa.
“Kami berharap swasta melakukan serupa, sehingga sentimen antar sekolah bisa ditekan,” kata Samsury, saat menjadi pembicara di sarasehan pencegahan dan penanggulangan perilaku bullying pada siswa SMA/SMK di UST, Kamis (7/5) pagi ini.
http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/enam-daerah-rawan-tawuran-di-diy-132515
Rabu, 14 Desember 2011
Waspadai geng pelajar…
Disinyalir saat ini muncul geng-geng pelajar di Jogja. Munculnya geng-geng itu memicu tawuran antar pelajar seperti yang terjadi pada Sabtu (3/10). Pihak kepolisian meminta sekolah dan masyarakat mewaspadai pembentukan geng remaja di luar sekolah.
Geng pelajar yang kerap terbentuk dengan berbagai nama dan karakter perlu diberikan perhatian dari berbagai pihak.
Wakasatreskrim Poltabes Jogja AKP Sudarmanto mengatakan sekolah harus lebih banyak berperan memberikan dorongan sekaligus kontrol kepada pada siswanya. Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Jogja, Adi Waluyo mengungkapkan tawuran itu akibat provokator.
Menurutnya sejumlah pelajar merasa panas dengan provokator yang diterimanya, lantas kemudian memberikan pelawanan kepada pelajar yang dituju. Di samping itu, ia menyikapi jika aksi nekad tersebut tak lepas dari kegiatan siswa di luar kegiatan sekolah.
Menurutnya ada juga siswa-siswa yang membentuk kelompok atau semacam geng sendiri di luar sekolah yang biasanya tidak terkontrol, “Kemarin kan hanya 8 orang anak, itu tidak ada satu persen dari total 1.088 siswa kita, padahal yang lain bagus semua,” ujarnya.
Ia sendiri mengaku telah lama mengadakan upaya pendekatan dan pembinaan bagi semua siswa sebagai antisipasi. “Bahkan sudah ada sinergi antar kepala sekolah juga, itu [tawuran] hanya karena provokator saja,” imbuhnya.
Menurutnya, pihaknya akan memberikan sanksi kepada pelajarnya. Di sisi lain, Kaur Binkops Reskrim Poltabes Jogja AKP Fajar Gemilang mengatakan, pelajar yang terjaring dalam aksi tawuran tersebut langsung dipulangkan. Dikatakannya, dalam pemeriksaan yang dilakukan, pihaknya tidak mendapati sejumlah barang bukti yang memberatkan.
http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/waspadai-geng-pelajar-135442
Geng pelajar yang kerap terbentuk dengan berbagai nama dan karakter perlu diberikan perhatian dari berbagai pihak.
Wakasatreskrim Poltabes Jogja AKP Sudarmanto mengatakan sekolah harus lebih banyak berperan memberikan dorongan sekaligus kontrol kepada pada siswanya. Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Jogja, Adi Waluyo mengungkapkan tawuran itu akibat provokator.
Menurutnya sejumlah pelajar merasa panas dengan provokator yang diterimanya, lantas kemudian memberikan pelawanan kepada pelajar yang dituju. Di samping itu, ia menyikapi jika aksi nekad tersebut tak lepas dari kegiatan siswa di luar kegiatan sekolah.
Menurutnya ada juga siswa-siswa yang membentuk kelompok atau semacam geng sendiri di luar sekolah yang biasanya tidak terkontrol, “Kemarin kan hanya 8 orang anak, itu tidak ada satu persen dari total 1.088 siswa kita, padahal yang lain bagus semua,” ujarnya.
Ia sendiri mengaku telah lama mengadakan upaya pendekatan dan pembinaan bagi semua siswa sebagai antisipasi. “Bahkan sudah ada sinergi antar kepala sekolah juga, itu [tawuran] hanya karena provokator saja,” imbuhnya.
Menurutnya, pihaknya akan memberikan sanksi kepada pelajarnya. Di sisi lain, Kaur Binkops Reskrim Poltabes Jogja AKP Fajar Gemilang mengatakan, pelajar yang terjaring dalam aksi tawuran tersebut langsung dipulangkan. Dikatakannya, dalam pemeriksaan yang dilakukan, pihaknya tidak mendapati sejumlah barang bukti yang memberatkan.
http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/waspadai-geng-pelajar-135442
Gara-gara saling ejek di Facebook
Setelah memeriksa 12 orang siswa yang diduga terlibat aksi pengeroyokan pemuda di Gondokusuman, Poltabes Jogja Selasa (22/12) siang kemarin, telah menahan satu tersangka.
Sementara Dinas Pendidikan Kota Jogja (Disdik), pa da hari yang sama, telah memanggil beberapa kepala se kolah dan meminta mereka meredam gejolak di sekolah pasca tawuran yang me nyebabkan satu orang meninggal yang terjadi Minggu (20/12) dini hari lalu.
Kapoltabes Jogja, AKBP Ahmad Dofi ri mengungkapkan, pihaknya telah memeriksa 12 orang dalam penyelidikan kasus pengeroyokan pada Minggu lusa.
Dia berkata, dari 12 orang yang telah diperiksa, satu di antaranya sudah ditahan dan lima lainnya masih diperiksa secara mendalam.
Menurutnya, satu tersangka telah ditahan karena terbukti membawa pedang. Meski demikian, Kapoltabes Jogja juga tidak menyebut nama atau inisial orang yang ditahan. Kemungkinan bertambahnya tersangka, masih cukup terbuka karena penyelidikan terus berlangsung.
Sementara itu, dalam pertemuan Disdik dan sejumlah kepala sekolah, dibahas mengenai munculnya kondisi antar sekolah yang kini sedang dalam suasana ‘panas’. Pasalnya siswa sekolah langganan tawuran garagara saling ejek di facebook (FB).
“Tantang-tantangan itu bermula dari FB, tetapi antar pelajar bukan alumni,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja Syamsuri, di sela-sela pertemuan para kepala sekolah, Selasa (22/12).
Akumulasi suasana ‘panas’ di FB itu, pecah pada tawuran pemuda yang terjadi Minggu (20/12) dini hari. Tawuran itu melibatkan siswa salah satu SMA swasta di Jogja dan memakan korban seorang mahasiswa alumni SMA 6 Jogja. “Itu sudah kesekian kali dipicu nyek-nyekan di facebook,” tambah Syamsuri.
Menghindari permasalahan sama terulang, harap dia, pihak sekolah diminta meredam gejolak di sekolah. “Kami minta kepala sekolah mampu meredam agar tidak ada pertentangan lanjut,” imbau Syamsuri.
Pertemuan antar kepala sekolah kemarin, tidak mengungkap detik-detik sesaat sebelum tawuran pecah. Pertemuan hanya mengungkap, malam itu korban yang alumni SMA 6 sedang merayakan ulang tahun di Bundaran UGM.
Setelah acara bersama teman-temanya di Bundaran UGM selesai, mereka menuju ban taran Code di dekat masjid Syu hada’ mencari makanan ringan. Naas, saat di Jalan Suroto korban dikeroyok dan menyebabkan satu korban tewas bernama Teofi lus Uki Caesar Kusuma dan dua di antaranya menabrak tiang telepon.
Menanggapi adanya panggilan DPRD Kota Jogja terkait maraknya kekerasan remaja, ujar Syamsuri, Disdik mengaku siap memberikan penjelasan atas aksi tawuran pelajar yang masih sering terjadi di kota ini.
Wuryadi, Ketua Dewan Pendidikan DIY berpendapat, ta wuran pelajar sekarang sering dipicu masalah remeh temeh. Semisal dipicu saling ejek identitas sekolah, saling ejek di perlombaan dan sebagainya.
Dia menegaskan, kenakalan remaja di Jogja tergolong tidak normal. Pasalnya kenakalan normal terjadi secara sporadis, sedangkan fenomena di Jogja kenakalan terus terjadi secara berulang. Sehingga seolah kejadian itu terstruktur.
http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/gara-gara-saling-ejek-di-facebook-136786
Sementara Dinas Pendidikan Kota Jogja (Disdik), pa da hari yang sama, telah memanggil beberapa kepala se kolah dan meminta mereka meredam gejolak di sekolah pasca tawuran yang me nyebabkan satu orang meninggal yang terjadi Minggu (20/12) dini hari lalu.
Kapoltabes Jogja, AKBP Ahmad Dofi ri mengungkapkan, pihaknya telah memeriksa 12 orang dalam penyelidikan kasus pengeroyokan pada Minggu lusa.
Dia berkata, dari 12 orang yang telah diperiksa, satu di antaranya sudah ditahan dan lima lainnya masih diperiksa secara mendalam.
Menurutnya, satu tersangka telah ditahan karena terbukti membawa pedang. Meski demikian, Kapoltabes Jogja juga tidak menyebut nama atau inisial orang yang ditahan. Kemungkinan bertambahnya tersangka, masih cukup terbuka karena penyelidikan terus berlangsung.
Sementara itu, dalam pertemuan Disdik dan sejumlah kepala sekolah, dibahas mengenai munculnya kondisi antar sekolah yang kini sedang dalam suasana ‘panas’. Pasalnya siswa sekolah langganan tawuran garagara saling ejek di facebook (FB).
“Tantang-tantangan itu bermula dari FB, tetapi antar pelajar bukan alumni,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja Syamsuri, di sela-sela pertemuan para kepala sekolah, Selasa (22/12).
Akumulasi suasana ‘panas’ di FB itu, pecah pada tawuran pemuda yang terjadi Minggu (20/12) dini hari. Tawuran itu melibatkan siswa salah satu SMA swasta di Jogja dan memakan korban seorang mahasiswa alumni SMA 6 Jogja. “Itu sudah kesekian kali dipicu nyek-nyekan di facebook,” tambah Syamsuri.
Menghindari permasalahan sama terulang, harap dia, pihak sekolah diminta meredam gejolak di sekolah. “Kami minta kepala sekolah mampu meredam agar tidak ada pertentangan lanjut,” imbau Syamsuri.
Pertemuan antar kepala sekolah kemarin, tidak mengungkap detik-detik sesaat sebelum tawuran pecah. Pertemuan hanya mengungkap, malam itu korban yang alumni SMA 6 sedang merayakan ulang tahun di Bundaran UGM.
Setelah acara bersama teman-temanya di Bundaran UGM selesai, mereka menuju ban taran Code di dekat masjid Syu hada’ mencari makanan ringan. Naas, saat di Jalan Suroto korban dikeroyok dan menyebabkan satu korban tewas bernama Teofi lus Uki Caesar Kusuma dan dua di antaranya menabrak tiang telepon.
Menanggapi adanya panggilan DPRD Kota Jogja terkait maraknya kekerasan remaja, ujar Syamsuri, Disdik mengaku siap memberikan penjelasan atas aksi tawuran pelajar yang masih sering terjadi di kota ini.
Wuryadi, Ketua Dewan Pendidikan DIY berpendapat, ta wuran pelajar sekarang sering dipicu masalah remeh temeh. Semisal dipicu saling ejek identitas sekolah, saling ejek di perlombaan dan sebagainya.
Dia menegaskan, kenakalan remaja di Jogja tergolong tidak normal. Pasalnya kenakalan normal terjadi secara sporadis, sedangkan fenomena di Jogja kenakalan terus terjadi secara berulang. Sehingga seolah kejadian itu terstruktur.
http://www.harianjogja.com/2009/harian-jogja/kota-jogja/gara-gara-saling-ejek-di-facebook-136786
SMAN 7 Jogja dilempari batu
Sabtu (30/1) siang kemarin SMA Negeri (SMAN) 7 yang terletak di Jalan Mt Haryono Mantrijeron, Jogja diserang oleh puluhan siswa sekolah lain. Mereka melempari batu yang mengakibatkan sejumlah kaca jendela pecah. Tak ada korban dalam kejadian ini. Menurut keterangan Satpam SMAN 7 Jogja, Paryanto kepada Harian Jogja, peristiwa perusakan tersebut terjadi sekitar pukul 12.45 WIB.
Sejumlah pelaku perusakan, terang Paryanto, merupakan sekelompok siswa sekolah swasta di Jogja yang berjumlah lebih dari 50 orang. ”Mereka berboncengan dengan mengendarai sepeda motor dan sebagian masih menggunakan seragam sekolah,” ujarnya. Informasi yang diperoleh Harian Jogja menyebutkan, saat kejadian sejumlah pelaku turun dari kendaraan dan menyerang SMAN 7 dengan melemparkan batu ke arah sekolah.
Saat itu, Paryanto yang sedang berjaga mengaku lemparan batu terjadi beberapa kali ke arahnya, namun ia berhasil menyelamatkan diri dengan bersembunyi. Peristiwa yang berlangsung hanya beberapa saat ini mengundang perhatian warga sekitar sekolah. Akibatnya mereka yang berusaha meredamkan aksi tersebut hampir mendapatkan serangan. Meskipun demikian, tidak terjadi bentrok antar warga, akhirnya kelompok siswa yang dikatakan datang sembari mengusung bendera tersebut bisa dibubarkan.
”Mereka lantas kabur ke arah barat,” pungkas Paryanto yang juga menerangkan selain menyerang, sejumlah pelaku tersebut juga menghujat dengan rangkain kata kotor. Lebih waspada Sementara itu, saat kejadian siswa SMAN 7 yang tengah memulai jam pelajaran usai waktu istirahat kedua ini diimbau untuk tidak terpancing oleh aksi tersebut. Koordinator Bimbingan Konseling Sumiyati mengatakan saat kejadian dia langsung mengamankan siswa untuk tetap berada di dalam ruang kelas.
”Dengan kejadian ini tentu kami semakin waspada lagi mengawasi anak-anak kami, terlebih saat ini siswa kelas 12 sedang menghadapi persiapan ujian, jadi mohon untuk tidak terpancing,” papar Sumiyati kemarin. Kapolsekta Mantrijeron, Jogja AKP Aryuniwati kepada Harian Jogja mengatakan hingga kini pihaknya tengah melakukan berbagai antisipasi terkait dengan aksi tawuran pelajar yang makin marak.
Di antaranya dengan melakukan berbagai penyuluhan kesekolah-sekolah serta melakukan pembinaan sebagai langkah antisipasi. Aryuniwati mengatakan pihaknya yang datang ke TKP tak lama setelah kejadian, dan mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya batu serta sepotong kayu yang ditinggalkan disekitar TKP, diduga kuat barang tersebut digunakan oleh pelaku untuk melakukan perusakan. Hingga kini kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
http://www.harianjogja.com/2010/harian-jogja/kota-jogja/sman-7-jogja-dilempari-batu-137528
Sejumlah pelaku perusakan, terang Paryanto, merupakan sekelompok siswa sekolah swasta di Jogja yang berjumlah lebih dari 50 orang. ”Mereka berboncengan dengan mengendarai sepeda motor dan sebagian masih menggunakan seragam sekolah,” ujarnya. Informasi yang diperoleh Harian Jogja menyebutkan, saat kejadian sejumlah pelaku turun dari kendaraan dan menyerang SMAN 7 dengan melemparkan batu ke arah sekolah.
Saat itu, Paryanto yang sedang berjaga mengaku lemparan batu terjadi beberapa kali ke arahnya, namun ia berhasil menyelamatkan diri dengan bersembunyi. Peristiwa yang berlangsung hanya beberapa saat ini mengundang perhatian warga sekitar sekolah. Akibatnya mereka yang berusaha meredamkan aksi tersebut hampir mendapatkan serangan. Meskipun demikian, tidak terjadi bentrok antar warga, akhirnya kelompok siswa yang dikatakan datang sembari mengusung bendera tersebut bisa dibubarkan.
”Mereka lantas kabur ke arah barat,” pungkas Paryanto yang juga menerangkan selain menyerang, sejumlah pelaku tersebut juga menghujat dengan rangkain kata kotor. Lebih waspada Sementara itu, saat kejadian siswa SMAN 7 yang tengah memulai jam pelajaran usai waktu istirahat kedua ini diimbau untuk tidak terpancing oleh aksi tersebut. Koordinator Bimbingan Konseling Sumiyati mengatakan saat kejadian dia langsung mengamankan siswa untuk tetap berada di dalam ruang kelas.
”Dengan kejadian ini tentu kami semakin waspada lagi mengawasi anak-anak kami, terlebih saat ini siswa kelas 12 sedang menghadapi persiapan ujian, jadi mohon untuk tidak terpancing,” papar Sumiyati kemarin. Kapolsekta Mantrijeron, Jogja AKP Aryuniwati kepada Harian Jogja mengatakan hingga kini pihaknya tengah melakukan berbagai antisipasi terkait dengan aksi tawuran pelajar yang makin marak.
Di antaranya dengan melakukan berbagai penyuluhan kesekolah-sekolah serta melakukan pembinaan sebagai langkah antisipasi. Aryuniwati mengatakan pihaknya yang datang ke TKP tak lama setelah kejadian, dan mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya batu serta sepotong kayu yang ditinggalkan disekitar TKP, diduga kuat barang tersebut digunakan oleh pelaku untuk melakukan perusakan. Hingga kini kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
http://www.harianjogja.com/2010/harian-jogja/kota-jogja/sman-7-jogja-dilempari-batu-137528
Belasan pelajar terlibat tawuran
Belasan pelajar SMA terlibat
tawuran di seputaran Jl Affandi, Caturtunggal, Depok, Selasa (20/7)
siang.
Tawuran itu diduga melibatkan pelajar
dari SMA Muhammadiyah 2 Jogja dan SMA Negeri I Depok.
Fikri Aditya,16, pelajar kelas XI SMA
Muhammadiyah 2 menceritakan, semula mereka akan pergi ke sebuah
tempat pengajian. Namun karena tertinggal dari rombongan lainnya,
mereka berputar-putar di kawasan Jl. Affandi untuk mencari alamat
tempat pengajian itu.
Sesampai di depan Jogja Plaza Hotel,
mereka bertemu dengan rombongan pelajar SMA Negeri 1 Depok yang
langsung melempar rombongan mereka dengan batu. Karena kalah banyak,
mereka kemudian memilih melarikan diri ke arah Papringan. Namun
lagi-lagi mereka kembali dikejar sehingga tawuran tak terhindarkan.
Tawuran dan aksi kejar-kejaran terus
berlangsung hingga ke arah Plasa Ambarrukmo. Beruntung petugas Polsek
Depok Barat segera menganitisipasi dan mengamankan setidaknya 18
pelajar.
Sedangkan beberapa siswa SMA 1 Depok
mengaku justru rombongan merekalah yang diserang terlebih dahulu oleh
rombongan pelajar SMA Muhamadiyah 2, ketika hendak pergi ke
Condongcatur.
(RGR vs BBC)
http://www.harianjogja.com/2010/harian-jogja/sleman-2/belasan-pelajar-terlibat-tawuran-140883
tawuran di seputaran Jl Affandi, Caturtunggal, Depok, Selasa (20/7)
siang.
Tawuran itu diduga melibatkan pelajar
dari SMA Muhammadiyah 2 Jogja dan SMA Negeri I Depok.
Fikri Aditya,16, pelajar kelas XI SMA
Muhammadiyah 2 menceritakan, semula mereka akan pergi ke sebuah
tempat pengajian. Namun karena tertinggal dari rombongan lainnya,
mereka berputar-putar di kawasan Jl. Affandi untuk mencari alamat
tempat pengajian itu.
Sesampai di depan Jogja Plaza Hotel,
mereka bertemu dengan rombongan pelajar SMA Negeri 1 Depok yang
langsung melempar rombongan mereka dengan batu. Karena kalah banyak,
mereka kemudian memilih melarikan diri ke arah Papringan. Namun
lagi-lagi mereka kembali dikejar sehingga tawuran tak terhindarkan.
Tawuran dan aksi kejar-kejaran terus
berlangsung hingga ke arah Plasa Ambarrukmo. Beruntung petugas Polsek
Depok Barat segera menganitisipasi dan mengamankan setidaknya 18
pelajar.
Sedangkan beberapa siswa SMA 1 Depok
mengaku justru rombongan merekalah yang diserang terlebih dahulu oleh
rombongan pelajar SMA Muhamadiyah 2, ketika hendak pergi ke
Condongcatur.
(RGR vs BBC)
http://www.harianjogja.com/2010/harian-jogja/sleman-2/belasan-pelajar-terlibat-tawuran-140883
Pelajar tawuran di Semaki Umbulharjo
Dua kelompok pelajar terlibat tawuran di depan Kantor Kejati DIY Jalan Sukonandi, Semaki, Umbulharjo, Jumat (29/7), sekitar pukul 13.30 WIB.
Berdasar informasi yang dihimpun Harian Jogja, kejadian bermula saat sekelompok pelajar yang mengendarai sepeda motor melintas di lokasi kejadian. Mereka menggeber-geber kenalpot kendaraan. Diduga karena tersinggung dengan aksi tersebut, sejumlah pelajar lain yang berada tak jauh dari lokasi langsung menyerbu kelompok tersebut.
Sempat terjadi saling lempar kayu dan batu. Dua sepeda motor nyaris jadi korban perusakan oleh para pelajar tersebut. Untung tawuran tak meluas karena berhasil dihentikan oleh petugas keamanan Kejati DIY.
http://www.harianjogja.com/2011/harian-jogja/kota-jogja/pelajar-tawuran-di-semaki-umbulharjo-147976
Berdasar informasi yang dihimpun Harian Jogja, kejadian bermula saat sekelompok pelajar yang mengendarai sepeda motor melintas di lokasi kejadian. Mereka menggeber-geber kenalpot kendaraan. Diduga karena tersinggung dengan aksi tersebut, sejumlah pelajar lain yang berada tak jauh dari lokasi langsung menyerbu kelompok tersebut.
Sempat terjadi saling lempar kayu dan batu. Dua sepeda motor nyaris jadi korban perusakan oleh para pelajar tersebut. Untung tawuran tak meluas karena berhasil dihentikan oleh petugas keamanan Kejati DIY.
http://www.harianjogja.com/2011/harian-jogja/kota-jogja/pelajar-tawuran-di-semaki-umbulharjo-147976
Geng pelajar bergerak terselubung
Hingga Selasa (23/8) siang, pihak SMA N 1 Depok belum menerima laporan resmi terkait tawuran pelajar yang terjadi di depan gedung Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul, Minggu (21/8) dini hari lalu.
“Kami baru tahu dari berita di koran. Belum ada polisi maupun pihak orangtua korban yang melapor ke sekolah,” kata salah satu guru SMA N 1 Depok, Jarwo.
Seperti diberitakan sebelumnya, tawuran yang melibatkan lebih dari 50 pelajar itu mengakibatkan tiga korban harus dilarikan ke RS. Dua di antaranya adalah Feri Ardi, siswa SMA N 1 Depok dan Aditya Baskoro, siswa SMA 3 Muhamadiyah Jogja. Tawuran itu bermula saat salah satu pemuda meneriakkan “BBC”.
Jarwo juga baru tahu dari koran kalau salah satu siswanya, Feri Ardi, sempat kritis karena luka bacok di punggung. Pihak sekolah belum menengok korban yang kini masih dirawat di RS Pantirapih, Jogja.
Meski masih dalam penyelidikan kepolisian, satpam SMA N 1 Depok, Suroto menduga penyebab pecahnya tawuran itu karena dendam lama kedua kubu. Pasalnya, selama Ramadan ini SMA N 1 Depok sudah tiga kali diteror aksi pelemparan batu.
“Pelemparan batu itu selalu dilakukan tiap Minggu dini hari,” ungkap Suroto. Pelakunya adalah segerombolan pemuda yang berboncengan motor. Setelah menimpuki gerbang sekolah, gerombolan itu langsung tancap gas.
Berkat tegasnya pihak kepolisian, tawuran pelajar kini jarang berlangsung pada siang hari. Kondisi itu jauh berbeda pada 2006 silam. Waktu itu, SMA N 1 Depok bisa dua hingga tiga kali diserang gerombolan pelajar dari sekolah lain.
“Lima tahun lalu, bentrokan kerap terjadi setiap jam pulang sekolah. Saking kewalahan mengatasi bentrokan, banyak satpam mengundurkan diri meski belum satu tahun bekerja,” kenang Suroto.
Adapun Kuntoro, tokoh masyarakat di wilayah Babarsari, membenarkan jika ada sebagian siswa SMA N 1 Depok tergabung dalam geng BBC. Namun, pihaknya tidak tahu pasti keterlibatan geng itu dalam tawuran di depan JEC.
“Sejak saya masih SMA, sudah ada geng pelajar. Waktu itu saya tergabung dalam geng Qzruh yang sampai hari ini masih eksis,” ujar alumnus SMA N 1 Depok angkatan tahun 1989 itu saat ditemui di rumahnya.
Menurut pria yang akrab disapa Bang Toro itu, tawuran pelajar kali ini lebih terselubung karena kecanggihan teknologi. Cukup saling ejek lewat sms atau facebook, para pelajar bisa terpancing emosinya. Menghimpun massa sewaktu-waktu juga lebih mudah dengan hape.
Pada 2008 silam, seluruh anggota geng BBC pernah dikumpulkan di Polsek Depok Barat karena kasus pengeroyokan terhadap seorang warga asal luar Jawa hingga kritis. Namun saat diminta membubarkan organisasi BBC, seluruh anggotanya kompak menolak.
“Alasannya, BBC bukanlah geng. Sebab, tidak semua anggotanya terlibat dalam aksi anarkis,” ujar Kasi Humas Polsek Depok Barat Aiptu Afandi. Menurut Afandi, anggota geng BBC bukan hanya sebagian siswa SMA N 1 Depok yang masih aktif. Para alumnus SMA N 1 Depok pun juga masih terlibat dalam geng tersebut.
“Untuk membina mereka juga sulit. Sebab, geng itu tidak memiliki markas atau tongkrongan tetap,” pungkas Affandi.
(BBC)
http://www.harianjogja.com/2011/harian-jogja/sleman-2/geng-pelajar-bergerak-terselubung-148534
“Kami baru tahu dari berita di koran. Belum ada polisi maupun pihak orangtua korban yang melapor ke sekolah,” kata salah satu guru SMA N 1 Depok, Jarwo.
Seperti diberitakan sebelumnya, tawuran yang melibatkan lebih dari 50 pelajar itu mengakibatkan tiga korban harus dilarikan ke RS. Dua di antaranya adalah Feri Ardi, siswa SMA N 1 Depok dan Aditya Baskoro, siswa SMA 3 Muhamadiyah Jogja. Tawuran itu bermula saat salah satu pemuda meneriakkan “BBC”.
Jarwo juga baru tahu dari koran kalau salah satu siswanya, Feri Ardi, sempat kritis karena luka bacok di punggung. Pihak sekolah belum menengok korban yang kini masih dirawat di RS Pantirapih, Jogja.
Meski masih dalam penyelidikan kepolisian, satpam SMA N 1 Depok, Suroto menduga penyebab pecahnya tawuran itu karena dendam lama kedua kubu. Pasalnya, selama Ramadan ini SMA N 1 Depok sudah tiga kali diteror aksi pelemparan batu.
“Pelemparan batu itu selalu dilakukan tiap Minggu dini hari,” ungkap Suroto. Pelakunya adalah segerombolan pemuda yang berboncengan motor. Setelah menimpuki gerbang sekolah, gerombolan itu langsung tancap gas.
Berkat tegasnya pihak kepolisian, tawuran pelajar kini jarang berlangsung pada siang hari. Kondisi itu jauh berbeda pada 2006 silam. Waktu itu, SMA N 1 Depok bisa dua hingga tiga kali diserang gerombolan pelajar dari sekolah lain.
“Lima tahun lalu, bentrokan kerap terjadi setiap jam pulang sekolah. Saking kewalahan mengatasi bentrokan, banyak satpam mengundurkan diri meski belum satu tahun bekerja,” kenang Suroto.
Adapun Kuntoro, tokoh masyarakat di wilayah Babarsari, membenarkan jika ada sebagian siswa SMA N 1 Depok tergabung dalam geng BBC. Namun, pihaknya tidak tahu pasti keterlibatan geng itu dalam tawuran di depan JEC.
“Sejak saya masih SMA, sudah ada geng pelajar. Waktu itu saya tergabung dalam geng Qzruh yang sampai hari ini masih eksis,” ujar alumnus SMA N 1 Depok angkatan tahun 1989 itu saat ditemui di rumahnya.
Menurut pria yang akrab disapa Bang Toro itu, tawuran pelajar kali ini lebih terselubung karena kecanggihan teknologi. Cukup saling ejek lewat sms atau facebook, para pelajar bisa terpancing emosinya. Menghimpun massa sewaktu-waktu juga lebih mudah dengan hape.
Pada 2008 silam, seluruh anggota geng BBC pernah dikumpulkan di Polsek Depok Barat karena kasus pengeroyokan terhadap seorang warga asal luar Jawa hingga kritis. Namun saat diminta membubarkan organisasi BBC, seluruh anggotanya kompak menolak.
“Alasannya, BBC bukanlah geng. Sebab, tidak semua anggotanya terlibat dalam aksi anarkis,” ujar Kasi Humas Polsek Depok Barat Aiptu Afandi. Menurut Afandi, anggota geng BBC bukan hanya sebagian siswa SMA N 1 Depok yang masih aktif. Para alumnus SMA N 1 Depok pun juga masih terlibat dalam geng tersebut.
“Untuk membina mereka juga sulit. Sebab, geng itu tidak memiliki markas atau tongkrongan tetap,” pungkas Affandi.
(BBC)
http://www.harianjogja.com/2011/harian-jogja/sleman-2/geng-pelajar-bergerak-terselubung-148534
Picu tawuran, 3 pelajar SMA diciduk
Tiga pelajar kelas X sebuah SMU swasta di Jogja diamankan Polsek Gondokusuman setelah ditangkap warga dan polantas saat mencoba memancing tawuran terhadap pelajar di SMAN 9 Jogja, Kamis (5/8) siang.
Saksi mata yang juga satpam SMAN 9 menuturkan, sebelumnya ketiga pelajar yang ditangkap itu bersama puluhan rekannya mengendarai sepeda motor melintas depan SMAN 9. “Mereka ada sekitar 20 orang dan lewat sambil mblayer-mblayer kendaraan mereka keras. Tapi para siswa [SMAN 9] tak ada yang keluar karena jam pelajaran masih berlangsung,” katanya kepada Harian Jogja.
Baru beberapa meter melewati depan gerbang SMAN 9, rombongan siswa itu dihampiri polisi lalu lintas yang mencium gerak-gerik para siswa itu saat melewati jalan Solo. Panik, tiga siswa yang berada paling depan rombongan itu berbalik arah. Naas, mereka terjatuh dan hampir saja kena amuk massa warga sekitar sebelum akhirnya diminta satpam SMAN 9 untuk dibawa ke pos satpam. Sementara rekan mereka kabur.
Tak berselang lama, jajaran Polsek Gondokusuman datang membawa mereka guna dimintai keterangan. Petugas Polsek Gondokusuman, Ipda Purwanto, menuturkan para siswa itu akan dimintai keterangan terkait aksi yang dilakukannya.
Ditambahkan Purwanto, sesaat sebelum penangkapan ketiga siswa itu juga telah terjadi penyerangan dengan pelemparan batu ke SMU Bopkri 2 Jogja. “Tapi kami belum tahu apakah pelakunya rombongan ini atau bukan. Masih kami selidiki,” katanya.
http://www.harianjogja.com/2010/harian-jogja/kota-jogja/picu-tawuran-3-pelajar-sma-diciduk-141289
Saksi mata yang juga satpam SMAN 9 menuturkan, sebelumnya ketiga pelajar yang ditangkap itu bersama puluhan rekannya mengendarai sepeda motor melintas depan SMAN 9. “Mereka ada sekitar 20 orang dan lewat sambil mblayer-mblayer kendaraan mereka keras. Tapi para siswa [SMAN 9] tak ada yang keluar karena jam pelajaran masih berlangsung,” katanya kepada Harian Jogja.
Baru beberapa meter melewati depan gerbang SMAN 9, rombongan siswa itu dihampiri polisi lalu lintas yang mencium gerak-gerik para siswa itu saat melewati jalan Solo. Panik, tiga siswa yang berada paling depan rombongan itu berbalik arah. Naas, mereka terjatuh dan hampir saja kena amuk massa warga sekitar sebelum akhirnya diminta satpam SMAN 9 untuk dibawa ke pos satpam. Sementara rekan mereka kabur.
Tak berselang lama, jajaran Polsek Gondokusuman datang membawa mereka guna dimintai keterangan. Petugas Polsek Gondokusuman, Ipda Purwanto, menuturkan para siswa itu akan dimintai keterangan terkait aksi yang dilakukannya.
Ditambahkan Purwanto, sesaat sebelum penangkapan ketiga siswa itu juga telah terjadi penyerangan dengan pelemparan batu ke SMU Bopkri 2 Jogja. “Tapi kami belum tahu apakah pelakunya rombongan ini atau bukan. Masih kami selidiki,” katanya.
http://www.harianjogja.com/2010/harian-jogja/kota-jogja/picu-tawuran-3-pelajar-sma-diciduk-141289
Pelajar nyaris bentrok di lapangan Cangkringan
Bentrokan antar pelajar nyaris terjadi di lapangan Jetis, Argomulyo, Cangkringan yang berjarak sekitar 500 meter dari Polsek, Rabu (18/5). Karena kesigapan petugas kepolisian, dua kubu yakni pelajar SMK Muhammadiyah Prambanan dan SMK Muhammadiyah Pakem berhasil dicegah.
Sejumlah barang milik pelajar disita oleh petugas Polsek Cangkringan yakni sebilah pedang, gear sepeda motor dan satu tas berisi batu. Tujuh siswa dari kedua sekolah juga dimintai keterangan sebelum diserahkan kepada orang tuanya masing-masing.
Informasi yang dihimpun Harian Jogja, kejadian itu berlangsung pukul 11.00 WIB. Saat itu puluhan siswa dari SMK Muhammadiyah Prambanan konvoi dari selatan dan berhenti di lapangan Jetis.
Tidak lama dari arah utara ada konvoi puluhan pelajar siswa SMK Muhammadiyah Pakem melintas di depan Polsek Cangkringan menuju arah lapangan. Polisi sudah berusaha mencegah karena diperkirakan akan terjadi bentrokan, namun rombongan konvoi terus melaju dan akhirnya bertemu di lapangan.
Sebelum bentrok, pelajar dari SMK Muhammadiyah Pakem beputar arah. Polisi berseragam dan berpakaian preman berhasil mencegah terjadi tawuran. Sejumlah pelajar yang melarikan diri berhasil ditangkap dan dibawa ke Polsek Cangkringan.
“Tadi ada rombongan di lapangan, terus dari utara ada konvoi lulusan. Terus yang dari utara putar balik tapi belum sempat bentrok,” kata Yuda, warga yang kebetulan melintas di lokasi.
http://www.harianjogja.com/2011/harian-jogja/sleman-2/pelajar-nyaris-bentrok-di-lapangan-cangkringan-146518
Sejumlah barang milik pelajar disita oleh petugas Polsek Cangkringan yakni sebilah pedang, gear sepeda motor dan satu tas berisi batu. Tujuh siswa dari kedua sekolah juga dimintai keterangan sebelum diserahkan kepada orang tuanya masing-masing.
Informasi yang dihimpun Harian Jogja, kejadian itu berlangsung pukul 11.00 WIB. Saat itu puluhan siswa dari SMK Muhammadiyah Prambanan konvoi dari selatan dan berhenti di lapangan Jetis.
Tidak lama dari arah utara ada konvoi puluhan pelajar siswa SMK Muhammadiyah Pakem melintas di depan Polsek Cangkringan menuju arah lapangan. Polisi sudah berusaha mencegah karena diperkirakan akan terjadi bentrokan, namun rombongan konvoi terus melaju dan akhirnya bertemu di lapangan.
Sebelum bentrok, pelajar dari SMK Muhammadiyah Pakem beputar arah. Polisi berseragam dan berpakaian preman berhasil mencegah terjadi tawuran. Sejumlah pelajar yang melarikan diri berhasil ditangkap dan dibawa ke Polsek Cangkringan.
“Tadi ada rombongan di lapangan, terus dari utara ada konvoi lulusan. Terus yang dari utara putar balik tapi belum sempat bentrok,” kata Yuda, warga yang kebetulan melintas di lokasi.
http://www.harianjogja.com/2011/harian-jogja/sleman-2/pelajar-nyaris-bentrok-di-lapangan-cangkringan-146518
Selasa, 13 Desember 2011
Geng Pelajar Nexas Komitmen Antianarkis
Fenomena geng pelajar di Yogyakarta masih ada di sejumlah sekolah. Satu diantaranya Nexas, singkatan dari Negeri Satu Sleman (SMAN 1 Sleman).
Geng pelajar tersebut berdiri sejak enam tahun lalu, dan bermarkas di sekolahan yang berlokasi di Jalan Magelang Km 15, Medari Sleman.
“Nexas dibentuk sebagai wadah suporter tim sepakbola maupun bola basket sekolah kami. Awalnya kita hanya 15 orang. Setelah berjalan, anggotanya semakin bertambah banyak," ujar Ketua Nexas, Debby 'Dobol' Kurniawan, Selasa (18/01/2011).
Seiring berjalannya waktu, Nexas mampu menjaga komitmennya untuk antianarkis dan terlibat dalam kegiatan sosial, misalnya membantu korban gempa bumi di Bantul tahun 2006, dan bencana erupsi Gunung Merapi.
"Sebenarnya, banyak sekolah lain ingin masuk keanggotaan Nexas. Tapi karena ingin memiliki citra dan menjaga konsistensi, maka terpaksa kami hanya menerima anggota dari kalangan SMA I Sleman," katanya.
Geng pelajar tersebut berdiri sejak enam tahun lalu, dan bermarkas di sekolahan yang berlokasi di Jalan Magelang Km 15, Medari Sleman.
“Nexas dibentuk sebagai wadah suporter tim sepakbola maupun bola basket sekolah kami. Awalnya kita hanya 15 orang. Setelah berjalan, anggotanya semakin bertambah banyak," ujar Ketua Nexas, Debby 'Dobol' Kurniawan, Selasa (18/01/2011).
Seiring berjalannya waktu, Nexas mampu menjaga komitmennya untuk antianarkis dan terlibat dalam kegiatan sosial, misalnya membantu korban gempa bumi di Bantul tahun 2006, dan bencana erupsi Gunung Merapi.
"Sebenarnya, banyak sekolah lain ingin masuk keanggotaan Nexas. Tapi karena ingin memiliki citra dan menjaga konsistensi, maka terpaksa kami hanya menerima anggota dari kalangan SMA I Sleman," katanya.
Salah satu pengagum Nexas, Evita Nugrahening Tyas Saputri (18) menilai geng Nexas adalah sekelompok pelajar yang tidak suka tawuran, dan suka bersikap kocak.
"Saat masih sekolah Nexas selalu menghibur setiap kali ada kompetisi basket atau lainnya. Saya kenal dengan beberapa anggotanya. Mereka adalah sekumpulan orang lucu," ujar alumni SMA 1 Mlati, Cebongan, Sleman itu.
Selama tiga tahun menempuh jenjang sekolah menengah atas, ia tidak pernah mendengar kabar kalau Nexas tawuran dengan kelompok lain. Para anggota Nexas juga sangat memerhatikan pendidikan.
"Mereka itu pintar-pintar. SMA I Sleman kan termasuk favorit. Mereka malah mungkin enggak berani tawuran," katanya sambil tertawa.
Vita mengatakan, tidak sedikit anggota Nexas yang berdandan keren dan memikat para remaja putri.
Eksistensi Nexas di SMA I Sleman tak pernah mendapat teguran dari pihak sekolah. "Saya mengerti betul mereka satu per satu. Nexas memiliki komitmen antianarkis dan sudah dibuktikannya," kata eks pengampu Nexas, Hermin MEd.
Setelah generasi pertama Nexas lulus, generasi penerus juga mampu mempertahankan komitmen antianarkis. Bahkan, mereka mampu tampil lebih variatif saat mendukung tim basket dan sepakbola SMA I Sleman.
"Tak lama setelah munculnya Nexas, saya ikut suami ke ke Australia. Namun, dari informasi para ‘sesepuh’ Nexas yang masih aktif komunikasi dengan saya, sampai saat ini geng tersebut semakin baik," ujarnya.
Hermin mengatakan, tidak ada salahnya jika Nexas tetap eksis. Syaratnya, harus tetap antianarkis. "Dilarang tawuran dan mabuk-mabukan,” katanya.
http://jogja.tribunnews.com/2011/01/18/geng-pelajar-nexas-komitmen-antianarkis
"Saat masih sekolah Nexas selalu menghibur setiap kali ada kompetisi basket atau lainnya. Saya kenal dengan beberapa anggotanya. Mereka adalah sekumpulan orang lucu," ujar alumni SMA 1 Mlati, Cebongan, Sleman itu.
Selama tiga tahun menempuh jenjang sekolah menengah atas, ia tidak pernah mendengar kabar kalau Nexas tawuran dengan kelompok lain. Para anggota Nexas juga sangat memerhatikan pendidikan.
"Mereka itu pintar-pintar. SMA I Sleman kan termasuk favorit. Mereka malah mungkin enggak berani tawuran," katanya sambil tertawa.
Vita mengatakan, tidak sedikit anggota Nexas yang berdandan keren dan memikat para remaja putri.
Eksistensi Nexas di SMA I Sleman tak pernah mendapat teguran dari pihak sekolah. "Saya mengerti betul mereka satu per satu. Nexas memiliki komitmen antianarkis dan sudah dibuktikannya," kata eks pengampu Nexas, Hermin MEd.
Setelah generasi pertama Nexas lulus, generasi penerus juga mampu mempertahankan komitmen antianarkis. Bahkan, mereka mampu tampil lebih variatif saat mendukung tim basket dan sepakbola SMA I Sleman.
"Tak lama setelah munculnya Nexas, saya ikut suami ke ke Australia. Namun, dari informasi para ‘sesepuh’ Nexas yang masih aktif komunikasi dengan saya, sampai saat ini geng tersebut semakin baik," ujarnya.
Hermin mengatakan, tidak ada salahnya jika Nexas tetap eksis. Syaratnya, harus tetap antianarkis. "Dilarang tawuran dan mabuk-mabukan,” katanya.
http://jogja.tribunnews.com/2011/01/18/geng-pelajar-nexas-komitmen-antianarkis
Siswa SMA Muhammadiyah I dan SMA 6 Hampir Duel di PN Yogyakarta
Ratusan massa pendukung kedua pihak hadir di depan gedung PN, dengan pengawalan ketat dari pihak Kepolisian. Begitu enam tersangka (siswa Muhammadiyah I) dibawa menggunakan mobil tahanan, kedua kubu langsung panas dan beberapa siswa menggeber gas sepeda motornya. Beberapa siswa terlihat beradu mulut dan akhirnya saling mendorong.
Beruntung, sebelum terjadi baku hantam, Polisi langsung mengamankan keadaan dan memisah kedua kubu. Kejadian ini pun sempat nyaris terulang lagi di jalan depan PN, namun aparat dengan sigap kembali melerai para pelajar.
Pandu, sorang siswa SMA N 6 mengaku datang ke PN untuk membuktikan rasa solidaritas. Dirinya mengaku, tidak ada pihak yang mengkoordinir pelajar untuk datang ke PN. "Kami datang, untuk menunjukkan solidaritas kami di dalam kasus ini," ujarnya.
Sementara, Rosi, siswa SMA Muhammadiyah I menjelaskan, pihaknya yakin rekannya yang menjadi tersangka tidak bersalah. Untuk itu, dirinya bersama ratusan siswa lainnya siap mendukung para tersangka. "Kita yakin teman-teman kita nggak bersalah. Itu terjadi karena kecelakaan, bukan karena penganiayaan," uajarnya.
Secara bergantian, pihak Kepolisian mengawal kedua kubu massa untuk kembali ke sekolah mereka masing-masing. Ratusan siswa Muhammadiyah I dikawal terlebih dahuu, baru selanjutnya siswa SMA N 6. Sementara itu, sidang ini pun akhirnya ditunda hingga Kamis (25/2) besok, lantaran saksi yang ingin dihadirkan tidak datang.
(Oestad vs GNB)
http://krjogja.com/read/21427/siswa-sma-muhammadiyah-i-dan-sma-6-hampir-duel-di-pn-yogyakarta.kr
Saling Bersitegang, 2 Kelompok Pelajar Tawur di Baciro
Informasi para saksi di tempat kejadian, kejadian terjadi sekitar pukul 11.15 WIB. Saat itu, puluhan pelajar dengan seragam batik (SMK Muhammadiyah 3. red) datang dengan menggunakan sepeda motor dari arah barat menuju stadion Mandala Krida. Sesampainya di pertigaan SMK PIRI I, kelompok pelajar tersebut berpapasan dengan kelompok pelajar yang lain (SMK PIRI I. red). Di tempat ini pula, langsung pecah baku pukul antara kedua kubu pelajar.
Perkelahian yang diduga berawal dari saling ejek ini tidak berlangsung lama, lantaran di sekitar lokasi terdapat ratusan Polisi yang tengah berjaga saat pengamanan acara Milad Muhammadiyah di Stadion Mandala Krida. Segera petugas berhamburan ke lokasi tawuran untuk melerai perkelahian tersebut.
Dalam insiden ini, setidaknya empat orang pelajar dari masing-masing kubu sempat dibawa ke Kantor Polsek Gondokusuman untuk dimintai keterangannya. Namun, setelah satu jam menjalani pemeriksaan, pelajar ini diperbolehkan pulang dan tidak ada satupun yang ditahan.
Kendati demikian, Kapolsek Gondokusuman, AKP Dodo Hendro Kusumo, menepis adanya perkelahian pelajar tersebut. Menurutnya, insiden tersebut hanyalah merupakan kejadian saling bersitegang saja antar kedua kubu pelajar.
"Dari keterangan para saksi yang dibawa ke sini, tidak ditemukan fakta-fakta terjadinya tawuran. Tidak ada yang terluka, juga tidak ada barang bukti. Hanya saling bersitegang saja. Mereka juga sudah kami pulangkan," terangnya kepada KRjogja.com.
(STPR vs MZA)
http://krjogja.com/read/9660/saling-bersitegang-2-kelompok-pelajar-tawur-di-baciro.kr
Geng Ganza Juga Suka Kegiatan Kreatif
Sebuah graviti berlatar biru muda menghiasi dinding luar tempat penampungan sampah sementara, di depan SMA Negeri 9 Yogyakarta. Tak jelas apa bunyi tulisan bertinta ungu itu. Namun, berkat goresan graviti itu, halaman depan sekolah tak tampak kumuh.
"Itu anak-anak Ganza yang bikin. Waktu kami kelas I, kami hanya ikut bantu-bantu saja," ujar Pandu, siswa kelas III SMAN 9, saat ditemui di sekolahnya, di Jalan Sagan I Yogyakarta, Sabtu (22/1/2011).
Ganza adalah nama geng di SMA 9 Yogyakarta yang dikenal gemar tawuran. Namun anggota Ganza juga melakukan kreasi bersama. Graviti adalah satu model kreatifitas yang dilakukan oleh anggota geng Ganza.
"Bau 'harum' dari tempat penampungan sampah terkadang tetap tercium. Tapi dengan memperindah dindingnya, agar suasana kotor jadi hilang," katanya.
Menurut Izul (18), anggota Ganza yang lain, kegiatan anak-anak Ganza tak jauh dari kesenangan remaja-remaja lain yang seusianya. Misalnya naik gunung, keluyuran pelbagai tempat, atau sekadar main games bareng di sejumlah tempat persewaan Play Station (PS). "Tawuran itu buat ramai-ramai aja," kata Izul yang mengaku sudah 'bertobat' dan tidak lagi mau diajak tawuran ini.
Izul menceritakan bahwa tidak ada ritual khusus seperti perpeloncoan terhadap anggota baru Ganza. Dengan demikian, katanya, tidak ada hierarki keanggotaan dan senioritas di antara mereka.
"Kami sama. Mungkin kelemahannya adalah ketika kami menginjak kelas III, kami jadi tidak begitu dekat dengan anak-anak Ganza yang kelas II atau kelas I," kata Izul.
Kekompakan anggota mereka bangun sekadar dengan nongkrong atau bermain bersama. "Kami biasa nongkrong di sekitar sekolah saja," ujar Izul sembari menggoda gadis-gadis dari SMA lain yang melintas di hadapannya.
http://jogja.tribunnews.com/2011/01/22/geng-ganza-juga-suka-kegiatan-kreatif
Langganan:
Postingan (Atom)


